RSS

[Fan Fiction] Romance in Autumn ~ part 1

11 Mei

Author : mycolorisland
Genre : romance
Rate : All Age

Cast : Kim Dongwan (Shinhwa), Nisa Kim (Shinhwa Changjo)
Special Appearance : Junjin (Shinhwa), Shin Hyesung (Shinhwa), Lee Minwoo (Shinhwa), Eric Mun (Shinhwa), Andy Lee (Shinhwa)

ooOoo

“Maafkan aku Junjin-ssi…” ucapku seraya menundukkan kepala dalam-dalam. Ayah, Ibu, Paman dan Bibi Park dibuat kaget dengan keputusanku ini, tak terkecuali Junjin. Meskipun ia masih memperlihatkan sikap cool-nya, aku tahu dari sorot matanya terbersit kekecewaan yang tidak kutahu seberapa besar.

“Tidak apa-apa, lagi pula pernikahan adalah sebuah ikatan suci. Ia bukanlah sesuatu yang dilakukan dengan terpaksa bukan?” jawab Junjin, ia berusaha untuk dapat tersenyum walau terlihat hambar.

Aku merasa tidak enak tapi juga sekaligus lega. Hari ini aku mengikuti perjodohan keluarga untuk kesekian kalinya. Seperti perjodohan-perjodohan sebelumnya, perjodohan ini dirancang oleh Ayah dan Ibuku. Kali ini mereka mencoba menjodohkanku dengan putra seorang CEO perusahaan ternama di Korea. Pria itu bernama Junjin. Secara fisik, boleh dikatakan perfect : rapi, tinggi, dan tampan. Tapi entah mengapa hatiku tidak mempan dengan pesonanya, aku hanya ingin menikah dengan orang yang benar-benar membuat hatiku berdegup kencang ketika melihatnya meski hanya dari kejauhan. Namun, tidak mungkin bagiku untuk menyampaikan alasan ini bukan? Jadi kusampaikan saja tentang karirku sebagai wartawan sebuah majalah Lifestyle & fashion cukup menyita waktu. Jadi untuk sementara ini aku tidak tertarik membahas tentang pernikahan, atau lebih tepatnya tidak ingin memasuki kehidupan rumah tangga di saat belum ada pencapaian maksimal pada karirku.

“baiklah, mungkin untuk sementara ini kami tidak akan mengganggumu lagi dengan perjodohan-perjodohan. Tapi ingat, jika akhir musim gugur nanti kamu belum terlihat menggandeng seorang pria. Kamu tidak boleh menolak lagi jika Ayah dan Ibu menjodohkanmu” ujar Ibuku tegas setelah kami keluar dari Restoran tempat dilaksanakan perjodohan tadi. “lhah… ini aku sudah menggandeng pria” ucapku bercanda dengan menggamit lengan Ayah. “Nisa, maksud ibumu itu pacar bukan Ayah” jawab Ayah terkekeh

ooOoo

Kulihat daun-daun itu mulai gugur, sebagian jatuh ke tanah dan sebagian lainnya terbang tertiup angin yang entah membawa mereka kemana. Beberapa pohon terlihat meranggas hanya meninggalkan batang dan ranting-ranting yang berwarna kecoklatan sehingga terlihat sangat eksotis. Sejenak kuhentikan langkahku dan kusentuh salah satu pohon di pinggir taman kota. “Kering….” gumamku pelan, saking keringnya kulit pohon sampai terkelupas. “Mungkin karena musim panas kemarin terlalu panas?” gumamku sekali lagi. Kutatap pohon itu dari batang hingga puncak pohon. Mengapa aku berfikir pohon ini terlihat kesepian?

Kesepian? Aku tersenyum tipis, menertawai diriku sendiri. Demi karir aku melupakan segalanya. Termasuk urusan hati. Sekarang aku baru tahu rasanya jika hati kita kosong. Ada sesuatu yang tidak lengkap. Entahlah aku tidak mengerti perasaan ini, atau aku yang terlalu naïf?
Kuhela nafas panjang lalu kulangkahkan kakiku dengan malas. Sampai kapan aku terus seperti ini? Beberapa kali perjodohanku aku gagalkan sendiri. Seperti kejadian kemarin, alasannya mungkin bagi sebagian orang cukup sepele. Hatiku sama sekali tidak bergetar ketika melihatnya. Karena aku percaya, setiap orang telah diciptakan dengan jodoh masing-masing. Entah dimana ia berada, hati kita telah diikat oleh Yang Maha Kuasa dengannya. Jadi, ketika suatu saat kita bertemu hati-hati ini akan tertaut dan berdebar kencang.

=) SPLASH…!!!

Mendadak mataku terasa terganggu dengan sebuak kilatan cahaya. Kuhalangi mata dengan tangan kananku karena terasa silau sekali.

“hey, siapa yang menyuruhmu memotretku?” tegurku pada seorang pria yang tertangkap basah diam-diam memotretku. Ia terlihat gelagapan, kaget bercampur bingung.
“uhm….”
“aah…sudahlah, aku tidak mau berurusan denganmu” ujarku sambil berlalu pergi.

Kupercepat langkahku ketika teringat harus menyusun liputan secepat mungkin sebelum tenggat waktu naik cetak. “mengapa mendadak jadi deg-degan begini?” gumamku sambil sedikit menepuk dada kiri. Seketika aku menoleh kebelakang, pria berkamera itu masih disana berdiri terdiam. “santai Nisa, jangan gugup. Mungkin ini karena efek berjalan yang terlalu cepat” ucapku menghibur diri sendiri.

[Dongwan POV]

“hey, siapa yang menyuruhmu memotretku?”

Aku terlonjak kaget, ketika ia menyadari aku memotretnya diam-diam. Aku tahu cara memotret seperti ini bukanlah suatu pekerjaan yang baik, seperti halnya paparazzi yang oleh sebagian artis dianggap sebagai tindak kriminal. Tapi entah mengapa hatiku mengatakan untuk terus memotretnya. Bagaimana aku menjelaskan semua ini? Sedari tadi aku memang memotretnya diam-diam. Entah sudah berapa kali jepretan. mulai dari ketika ia menyentuh batang pohon yang kering hingga kemudian memandangi ujung pohon yang mulai meranggas.

“uhm……”Aku bingung harus mengatakan apa.

“aah…sudahlah, aku tidak mau berurusan denganmu” ujarnya sambil berlalu pergi dengan langkah tergesa-gesa. Mataku belum mau beranjak dari sosoknya, entahlah aku sendiri kurang mengerti. Baru beberapa langkah, ia menoleh ke belakang beberapa saat sebelum kemudian ia kembali melangkahkan kakinya. Daun-daun kembali berjatuhan diterpa angin musim gugur, hal ini membuat pemandangan dihadapanku semakin eksotis yang menggodaku untuk mengabadikan momen ini. Kupotret gadis itu sekali lagi…

Tiba-tiba ponsel di saku celanaku bergetar. “Yeoboseyo, Andy-ah…” alisku berkerut mendengar perkataan orang diseberang telepon. “ah…oke aku mengerti. Aku akan segera kesana…..”

@ sebuah café

“Hyung, disini….” Seru Andy melambaikan tangannya. Langsung saja kuhampiri dia yang sedang duduk di pojokan café. “bagaimana kabarmu hyung? Bagaimana rasanya sudah dua hari pulang kampung?” tanyanya dengan ceria

“baik, tapi dua hari ini kegiatanku masih belum jelas. Hanya jalan-jalan dan memotret semua yang kusuka. Dirimu?”. Andy tersenyum “bisnis propertiku lumayan bagus. Oiya ini ada beberapa design interior untuk studio fotomu” ujar Andy menunjukkan beberapa gambar design di laptopnya, tapi yang kulihat hanya screen berwarna hitam. “Ough… sebentar, laptopku error lagi” seru Andy sambil memutar laptop kembali menghadapnya. Sambil menunggu Andy yang masih sibuk mengutak-atik laptopnya, kusapu seluruh sudut café dengan mataku.

Mataku terhenti pada sosok gadis yang duduk di pinggir jendela kaca. Ia hanya duduk sendirian, ditemani secangkir kopi, sebuah laptop dan beberapa berkas. Rambut hitamnya di kuncir asal-asalan sehingga beberapa helai rambutnya masih terurai. Tangan kanannya memegang sebuah pensil yang ia jadikan penopang dagu, sementara tangan kirinya memegang beberapa lembar kertas. Reflek kuambil kameraku dan kupotret dia.

Aku baru sadar ternyata dia gadis yang sama dengan gadis yang kutemui di taman sekitar satu jam yang lalu. Kusunggingkan senyum tipis. Bagaimana bisa aku bisa setertarik ini memotret gadis yang sama sekali belum kukenal?.
“ah… hyung, ini dia gambarnya. Kau suka yang mana?” Tanya Andy

ooOoo

Kumainkan salah satu kakiku, menendang kerikil-kerikil kecil. Kulirik jam tanganku. Mengapa gadis itu belum datang juga?. Sejak pertemuan kemarin rasa-rasanya senyum dibibirku terus terkembang. Kuharap sore ini kembali bertemu dengannya. Padahal aku sendiri tidak tahu ia akan lewat taman ini lagi atau tidak. Seperti taruhan bukan? Biarlah. Toh, ada untungnya juga aku disini. Seperti biasa mencari inspirasi.

Setelah bertemu Andy kemarin, aku langsung kedapatan job membuat buku fotografi yang berisi teknik-teknik fotografi. Profesiku di Paris sudah sangat dikenal sebagai fotografer papan atas yang sering menangani katalog butik-butik kelas dunia. Tapi yang benar saja? Apa aku setenar ini di Seoul?. Perasaan baru 2 hari kembali ke Seoul kedatanganku sudah dicium media.

Kulihat kembali hasil jepretanku seharian ini. Melakukan hal yang disukai memang sangat menyenangkan. Tanganku mendadak menghentikan tayangan slide-show yang ada di kamera. Kupandang gambar seorang gadis yang menopang dagunya dengan pensil di depan sebuah laptop dengan tumpukan berkas-berkas disampingnya. Aku tersenyum, siapakah gerangan gadis ini? Rasanya begitu bahagia melihatnya meski hanya sebuah file foto. Tunggu… apakah aku sedang jatuh cinta? Pada gadis yang sama sekali belum kukenal?

Apa aku ini bodoh? Bertemu dengannya saja baru dua kali. Mengetahui namanya saja tidak, apalagi berharap untuk bisa berkencan dengannya. Tapi aku ingin bertemu dia… gimana dong?
Mendadak, mataku menangkap sesuatu yang terjatuh di hadapanku lalu memungutnya.

“Nisa Kim? Wartawan majalah d’style?” kubaca nama id card yang kini ada ditanganku. Ah, sepertinya wanita itu yang id card-nya tidak sengaja terjatuh dan dengan segera kukejar dia

“Nona… tunggu! id card anda terjatuh!” teriakku sambil mengejarnya. Untung langkahnya terhenti. Dengan nafas yang masih tak beraturan kuserahkan id card itu. Namun, bukannya nafasku semakin tenang malahan menjadi aneh. Jantungku terasa ingin melompat keluar

“ah! Terima kasih… dimana anda menemukan id card saya? ” tanyanya dengan mata berbinar-binar. Olala.. dia gadis yang kemarin !!! yang wajahnya menghuni file foto di kameraku !!!

“anu…errrr….ehhmmm…. tadi terjatuh disana” jawabku dengan menunjuk arah sekenanya.
“sekali lagi terima kasih…” ucapnya sembari sedikit membungkukkan badannya kemudian berlalu pergi.

Apakah dia mengenaliku, kita sudah bertemu kemarin bukan? Aku hanya bisa tersenyum memandangi punggungnya. Beberapa saat kemudian ia berbalik dan memandangku dengan pandangan yang… aku tidak mengerti maksudnya. Ah, Nisa Kim…

[Dongwan POV end]

“dia siapa? Sepertinya aku familiar dengan wajahnya” bisikku saat kupandang ia dari kejauhan. Pria itu masih berdiri di sana dengan kamera di tangannya. Tunggu dulu! Kamera? Apakah ia pria yang kemarin itu? Bagaimana bisa aku merasakan sensasi yang sama dengan orang ini? Sensasi yang membuat jantung berdegup kencang…
Kugenggam erat id card-ku. Apakah ia membaca namaku di id card ini? Ingin rasanya aku berteriak “Hey! Namaku Nisa Kim…!!!” tapi sungguh aku tak mampu. Ia masih saja berdiri di sana. Apakah suatu saat kita bisa bertemu lagi Mr. Camera?


[TO BE CONTINUED]

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 11, 2011 in Fan Fiction, Korea

 

Tag:

7 responses to “[Fan Fiction] Romance in Autumn ~ part 1

  1. shoojinlimff

    Mei 11, 2011 at 9:12 am

    Onn,msa org tuanya nisa ikt ke acra prjdohan?
    bkanx mlah mengganggu acra ank muda? lol

    cie~ sodara kmbar i (dongwan) deg2an.
    prikitiw~
    mw dong dfto jg ma aa. #plak

     
    • mycolorisland

      Mei 11, 2011 at 9:28 am

      jiaahhh…. kan kayak di pelem-pelem gitu. acara perjodohan keluarga ya… ortunya ikut hadir lah~~~

      btw thanks ya udah mau mampir ke blog-ku… ^^ ditunggu kunjungan selanjutnya. oke? yuuk main ke blog mu….

       
  2. Amy Kanzaki

    Mei 13, 2011 at 3:51 am

    Amy suka lho baca fanfic di sini ^^

    bagus bagus, part 2 buruan di post ya admin, Amy mau baca

     
  3. JunAh

    Mei 14, 2011 at 6:46 pm

    lalalalala~~~ nanti ada Eric – YuRi couple yah eonn… kkkkk~~~~

     
  4. Nisa Kim Wan

    Mei 29, 2011 at 2:29 am

    na chuwaaaa*blush*

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: