RSS

[Fan Fiction] Even it’s a Lie

04 Jun

Author : mycolorisland
Genre : Romance
Rate : All Ages
OST
: Even it’s a Lie (Kojitmal Irado) ~ Shin Hye Sung
Cast : Shin Minchul, Kim Jun, Joo Chanyang, Park Hanbi, Park Yunhwa
Special guest : Shin Hyesung (Shinhwa), Kim Dong Wan (Shinhwa), Lyn, Nakamaru Yuichi (KAT-TUN)
Supporting cast: Shin Hyojin, Jung Eun Ah, Jung Hyokyung, Park In Young, Shin Hye Jae, Shin Ran Byul, Shin Ji Bin, Song Ji Yoo, Han Eun Kyung

Disclaimer: this story originally from my own imagine, go away plagiator. Shin Minchul, Kimjun, Joo Chanyang, Park Yunhwa, Park Hanbi belongs to Planet905. Kim Dongwan, Shin Hyesung, Lyn belongs to Liveworks company. Nakamaru Yuichi belongs to Johnnys Junior Japan. supporting cast belongs to mighty max

[Kimjun POV]
“Tapi hyung…….” Ujarku mengelak. Sosok pria didepanku terlihat masih teguh pendiriannya. “mian hyung, aku benar-benar tidak bisa” ujarku sekali lagi menegaskan. Dia membetulkan letak kaca matanya, menghela nafas sebentar, dan menatap mataku lekat-lekat.

“Jun, hanya dirimu yang bisa membantu adikku. kumohon” pintanya sekali lagi, bahuku melorot lemah. Kali ini dua Shin bersaudara, Shin Minchul dan Shin Hyojin benar-benar membuatku merasa pusing. Bagaimana tidak? Aku diminta untuk berpura-pura mencintai Shin Hyojin dan pura-pura memintanya menjadi pacarnya. Bukankah ini gila? Mana mungkin bisa berpura-pura mencintai seseorang yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri?. Aku mulai merasakan keningku berdenyut-denyut.

“Jun, kau tahu kan? Umur adikku sudah tidak lama lagi? Leukemia stadium akhir sudah menggerogoti semangat hidupnya. Aku hanya ingin melihatnya bahagia disaat-saat terakhir seperti ini. Aku berharap jika semangat hidupnya pulih itu dapat membantu memperpanjang kemungkinannya untuk bertahan hidup” Ujar Minchul hyung, ucapannya ini membuat hatiku mulai terketuk.

“bukankah masih ada kemungkinan untuk sembuh? Aku dengar penderita leukemia dapat sembuh dengan melakukan donor sumsum tulang belakang?”
“tapi Jun, itu kemungkinannya sangat kecil untuk menemukan donor sumsum tulang belakang yang paling cocok. Saudara saja belum tentu cocok. Jujur aku tidak bisa mengandalkan jalan ini walaupun saat ini kami juga mengusahakan upaya pencarian donor”
“Lantas mengapa harus aku hyung? Bukankah Hyojin punya banyak teman lelaki di kampus? Aku rasa cukup banyak yang tertarik kepada Hyojin” tanyaku spontan dan untuk kesekian kalinya menghindar.
“kau ingin tahu mengapa?” tanyanya yang langsung kusambut dengan anggukan berkali-kali
“karena dia mencintaimu…”

Aku terdiam, lidahku kelu. Hatiku mulai mengetuk-ngetuk ruang sadarku. Namun yang ada hanya peperangan antara suara hati dan pikiran sadar. Apa yang harus kulakukan?

Sesampainya di kantor, rasanya kepalaku semakin terasa pening dan berputar-putar. Ini pasti efek beban pikiran yang terlalu berat. Namun, kuputuskan untuk tidak minum obat penghilang rasa sakit karena hal itu akan memperburuk kodisiku jangka panjang nanti.

“Hyung, ini konsep pemotretan untuk album terbaru Shin Hyesung nanti” suara Park Hanbi membuatku tersadar dari pergulatan pikiranku.
“aku dan Yunhwa hyung tadi sudah menemui pihak Liveworks Company, perusahaan manajemen Shin Hyesung untuk membicarakan masalah detail konsep photoshoot albumnya” lanjut Hanbi, aku hanya manggut-manggut sambil membuka laporan yang dibuat dua asistenku ini.
“oiya hyung, tahu tidak? Jika pekerjaan kita nanti hasilnya baik dan memuaskan mereka. Shin Hyesung akan memasukkan kita dalam kandidat daftar studio foto yang akan mengkonsep foto-foto untuk album comeback-nya Shinhwa!!! Shinhwa hyung… Shinhwa!!! Ini boyband besar Korea!!!! Boyband paling lama bertahan di dunia KPop!!!!” teriak Park Yunhwa kegirangan
“sejak kita sukses mengkonsep photobook-nya T-Max dan album terbarunya. Nama studio foto kita semakin terkenal. Bahkan Planet905 tadi menghubungiku supaya kita segera mempersiapkan konsep photoshoot album debut Boyband dan Girlband baru yang akan mereka lejitkan. Aku sampai dapat bocoran nama salah satu membernya adalah Geon Moo. Wow! Aku benar-benar tidak sabar” lanjut Hanbi dengan mata berbinar-binar.
Sepertinya dua Park bersaudara ini tersadar melihatku tanpa ekspresi mendengar berita-berita gembira ini. Tentu saja mereka heran, harusnya disaat seperti ini akulah yang paling bahagia. Project-project ini akan mengatarku sebagai fotografer terbaik di Korea. Bukankah ini impian terbesarku?

Setelah berbicara panjang kali lebar sama dengan luas. Dua Park bersaudara itu manggut-manggut seakan-akan mengerti apa yang sedang aku alami. Ya, semoga tidak hanya seakan-akan tapi mereka benar-benar mengerti.
“Hyung, apa salahnya berbuat baik? Bukankah membahagiakan orang lain itu perbuatan terpuji?” Tanya Yunhwa retoris. “ini sama saja berbohong” tukasku cepat
“berbohong untuk kebaikan, it doen’t matter. Shin Hyojin pasti sangat membutuhkan spirit darimu” ujar Hanbi
“tapi dia kan bisa juga mendapat spirit dari kalian yang saudaranya, masih ada pula kakak kandungnya Minchul hyung. Sedangkan aku ini siapa?”
“kamu adalah pria yang dicintainya hyung. Spirit dari orang terkasih hasilnya akan berbeda. Jadi tolonglah dia…”
Sekali lagi kurasakan lidahku menjadi kelu…

[Kimjun POV end]

ooOoo

“Hyojin…” sapa Minchul dengan senyum sumringah. Yang disapa hanya tersenyum simpul kemudian kembali sibuk membenamkan wajahnya ke novel dihadapannya.
“hei…sedang baca apa? Asyik sekali sampai-sampai oppa-mu ini dicuekin” Tanya Minchul penasaran. Setelah mengganti bunga di vas yang sudah mulai layu dengan puluhan tangkai mawar putih segar, ia duduk di ranjang putih adiknya. Lebih tepatnya sih ranjang rumah sakit.

Shin Minchul melihat adiknya itu dengan tatapan miris. Tubuh yang semakin kurus, ringkih, dan berbalut selang infuse itu masih saja terpekur dengan novel. Sejak masuk rumah sakit 3 bulan lalu, Hyojin mendadak menjadi makhluk kutu buku. Entah sudah berapa puluh novel habis ia lahap. Padahal sebelumnya ketika masih sehat dulu, ia bukan tipikal gadis bergaun putih yang suka baca novel di bawah pohon seperti di film-film. Ia adalah aktivis mahasiswa yang aktif berorganisasi, ikut orasi, diskusi, penelitian dan banyak kegiatan ilmiah lainnya. Namun, sejak ditemukan pingsan 3 bulan lalu di ruang diskusi di kampusnya, ia berubah 180 derajat. Ia divonis menderita Leukemia stadium akhir yang tinggal menghitung bulan untuk bisa bertahan di dunia ini. Praktis hidupnya dihabiskan di bangsal rumah sakit. Tak cukup itu saja, semangat hidupnya pelan-pelan tergerus dan merubahnya menjadi gadis melankolis yang hobi baca novel romantis dan gampang menangis.

“fiuh… tamat!” gumam Hyojin pelan disertai suara tepukan novel yang ditutup agak keras.
“memangnya novel apalagi yang kamu baca? Dari tadi oppa-mu ini duduk disini tapi sama sekali tidak dihiraukan. Sepertinya pengarang-pengarang novel itu lebih cocok jadi kakakmu” ujar Minchul pura-pura cemberut
“heheheh oppa jangan gitu dong, bagiku Oppa tetap yang terbaik kog” jawab Hyojin terkekeh melihat kelakuan oppa-nya yang sok cemberut, tapi kelihatan cemberut yang dibuat-buat. Jadi malah kelihatan seperti anak kecil yang tidak diijinkan ibunya makan permen.
“uhm… ini judulnya Romance in Autumn pengarangnya mycolorisland”
“mycolorisland? Nama yang aneh” alis Minchul berkerut tidak mengerti
“hehehe oppa oppa, ini nama pena. Dia orang Indonesia. Novelnya sudah dicetak ke berbagai bahasa, dan yang aku baca ini yang versi terjemahan Koreanya” Minchul hanya manggut-manggut mendengar penjelasan adiknya.
“novel ini bercerita tentang seorang fotografer Korea lulusan Perancis yang jatuh cinta kepada gadis warga negara Indonesia yang bekerja di Korea sebagai wartawan sebuah majalah lifestyle di Seoul. Setelah melewati beberapa konflik akhirnya mereka bersatu. Yang paling romantis menurutku adalah saat sang fotografer melamar gadis itu. Tahu tidak oppa bagaimana cara pria itu melamarnya?” Tanya Hyojin, tentu saja Minchul menggeleng karena memang dia belum membaca novel itu.
“disebuah acara launching photobook karya sang fotografer. Photobook itu didominasi oleh satu objek yaitu sang gadis dengan berbagai pose dan angle yang secara diam-diam di take tanpa pengetahuan sang gadis. Itu adalah kumpulan foto-foto yang dijepret sejak mereka pertama kali bertemu. Di akhir halaman sang fotografer menuliskan sesuatu yang intinya melamar sang gadis. Sangat romantis bukan?” jelas Hyojin panjang lebar, matanya berkilat-kilat menceritakan detail novel tersebut. Shin Minchul tersenyum melihat keceriaan adiknya itu.
“oiya oppa, novel ini yang memberi Sunbaenim semalam lho…” celetuk Hyojin
“ohya? Maksudmu Kimjun? Berarti semalam dia kesini?” Tanya Minchul disertai aggukan dalam Hyojin. Olala pantas… Kimjun kan fotografer. Karakter utama di novel itu kan juga fotografer. Shin Minchul mulai paham sekarang…
“terima kasih Jun…” bisik Minchul dalam hati

ooOoo

“pagi ini cuaca sangat cerah, hawa segar awal musim semi menelisik masuk kamarku disertai hangatnya mentari pagi. Kamar bercat putih ini yang entah sudah berapa bulan kutempati, aku tidak ingat lagi. Lebih tepatnya aku tidak mau menghitungnya karena itu terlalu membosankan.
Jun oppa…
Aku menulis diary ini setiap pagi, sangat berbeda dengan kebanyakan orang bukan? Aku juga tidak tahu kenapa. Entahlah…
Beberapa hari ini aku sangat bahagia, mungkin ini adalah salah satu fase paling bahagia dalam hidupku. Terima kasih oppa, karena kehadiranmu membuat hari-hariku semakin cerah. Tidak sesendu dan sekelam dulu
Terkadang aku tersenyum sendiri ketika dirimu mendadak muncul dihadapanku dengan kostum kelinci dan membawakan setumpuk novel. Menceritakan hal-hal lucu hingga membuatku tertawa terpingkal-pingkal.
Minchul oppa dan Dokter Joo sangat senang dengan perkembanganku ini, bahkan saudara sepupuku Park Yunhwa dan Park Hanbi juga ikut bahagia dengan kondisiku yang semakin membaik.
Jun oppa…
Nasehatmu telah terpatri dalam pikiranku. Aku harus melawan penyakitku ini, dan harus keluar sebagai pemenang. Ya, sebagai pemenang bukan sebagai pecundang…”

Hyojin tersentak kaget ketika mendapati Jun yang tiba-tiba berada di ujung ranjangnya. Dengan cepat ia tutup buku diary dan menyembunyikannya di bawah bantal.
Kimjun tersenyum hangat. “Hyojin… bagaimana kabarmu?”
“Sunbaenim, kapan kau datang?” Tanya Hyojin gugup, mendadak jantungnya mulai berdesir hebat.
“hey sudah berapa kali kubilang? panggil oppa saja. Oke?”
“hehehe op…pa…” ujar Hyojin cengengesan. Ia merasa aneh memanggil Kimjun dengan oppa, ia lebih terbiasa memanggilnya dengan Sunbaenim. Selama ini ia hanya berani memanggilnya oppa hanya di diary. Sebab panggilan “oppa” menurutnya lebih cocok ditujukan pada sosok kakak laki-laki yang sangat disayangi. Rasanya akan lebih sopan memanggilnya Sunbaenim.

Kimjun melirik sarapan yang diletakkan di meja, nampaknya belum sama sekali disentuh oleh pemiliknya.
“Kau tidak memakan sarapanmu?”
Hyojin menggeleng pelan “aku tidak lapar…” jawabnya cepat
“dasar gadis bodoh, mau sembuh atau tidak sih? Ayo sarapan , aku yang suapi..”
“hah…???” mata Hyojin terbelalak kaget. Belum sempat ia mengucapkan sesuatu, suapan pertama sudah berada di depan mulutnya.
“ayo makan…”
Aduh bagaimana ini? Hyojin merasa tubuhnya menjadi lemas karena nafasnya terhenti sejenak sementara jantungnya mendadak berpacu cepat.
“ayo dimakan…”

Dengan ragu-ragu Hyojin melahap makanannya. Di luar ruangan Minchul melihat mereka dengan senyum terkembang hingga seorang perawat menghampirinya.
“maaf mengganggu Tuan Shin, Dokter Joo meminta anda untuk menemuinya sekarang di ruangannya”
“Ah…baik, saya akan segera kesana”

ooOoo

“Aaaaahhhhh… udaranya segar sekali…….” Teriak Hyojin senang sembari memejamkan mata dan merentangkan kedua tangannya. Mencoba merasakan segarnya udara awal musim semi. Ia sangat jarang keluar ruangan, nyaris tidak pernah malah. Ketika Kimjun mengajaknya jalan-jalan ke taman rumah sakit, Hyojin menyambutnya dengan kegirangan.

=) SPLASH

“Aw…” Hyojin memekik pelan ketika sebuah kilatan cahaya menyilaukan matanya. “oppa…! Kau diam-diam memotretku? Kau tidak tahu? Aku paling tidak suka dipotret seperti itu” ujar Hyojin cemberut, Kimjun hanya tersenyum simpul melihat kelakuan gadis pesakitan yang satu ini ketika ketahuan memotretnya ala paparazzi. Sudah berpuluh jepretan yang berhasil ia ambil.

DEG… DEG… DEG…

“oh tidak… senyumnya…” batin Hyojin menjerit “kenapa aku jadi deg-degan begini, aku kesulitan bernafas… aku butuh oksigen… tolong… aku kesulitan bernafas”

Batin Hyojin semakin tercekat ketika perlahan Kimjun mendekatinya. Jantungnya berpacu cepat tetapi paru-parunya tidak dapat melakukan relaksasi membuat Ia semakin kesulitan bernafas.

“Rambutmu berantakan…” seru Kimjun seraya merapikan rambut Hyojin dengan jemari tangannya.

Kini giliran Kimjun yang nafasnya tercekat. Ia melihat rambut Hyojin tertinggal di sela-sela jemarinya. Tidak hanya satu dua, tetapi cukup banyak. Oh tidak! Rambut Hyojin…

“tega sekali membiarkan Jun menyisir rambut jelekmu itu dengan jarinya? Nih pakai sisirku” seru Minchul tiba-tiba sambil melemparkan sebuah sisir yang mendarat mulus di tangan Hyojin.
Hyojin tersenyum “Terima kasih oppa”

“ah…tidak perlu pakai sisir. Ini sudah rapi kok!” seru Kimjun menutup-nutupi, ia sangat cemas jika Hyojin nanti tahu bahwa rambutnya sudah mulai rontok. Ini sebuah gejala buruk bagi seorang penderita Leukemia bukan?

Tapi sayang, Hyojin tidak mendengarkan kata-kata Kimjun. Ia sudah menyisir rambut yang masih bercat cokelat itu.
Mendadak Hyojin terdiam melihat sisirnya dipenuhi rambutnya yang rontok.

“hm… jangan khawatir oppa ini hanya rambut rontok, mungkin karena tidak pernah terkena cahaya matahari makanya rambutku rapuh ” ujar Hyojin sambil menggigit bibir. Kemudian ia melanjutkan menyisir rambutnya
“oppa, ketika membelikan shampoo untukku harusnya yang hairfall teraphy khusus untuk mengurangi rambut rontok” Minchul menatap Hyojin dengan nanar.
“hehe kenapa yang rontok jadi banyak begini ya?” Hyojin tersenyum tipis seakan-akan ingin menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.
“Hyojin, kau baik-baik saja?” Jun memegang bahu Hyojin erat, ia terlihat sangat cemas.
“Dokter Joo… Dokter Joo…!!!” teriak Minchul cemas, tanpa berpikir ia langsung berlari mencari Dokter Joo.
“Aku… akan baik-baik saja kan oppa?” mata gadis itu mulai berkaca-kaca menatap wajah Kimjun “ini hanya rambut rontok biasa kan? Akan sembuh dengan shampoo hairfall teraphy kan?” bahu Hyojin semakin terguncang. Kimjun hanya terdiam, ingin ia mengatakan sesuatu tapi terhenti di tenggorokan. Ia hanya bisa memeluk Hyojin yang kini tangisnya semakin pecah.

ooOoo

“seperti perkiraan saya tadi, kondisi pasien lama-lama akan menurun” Dokter Joo memulai penjelasannya. “jika tidak segera menemukan donor sumsum tulang belakang yang tepat, sepertinya kita hanya bisa menunggu adanya keajaiban dari atas”
“maksud dokter apa?” sambar Minchul cepat
“Minchul-ssi, adik anda sudah berada pada stadium akhir. Tidak ada jalan lain selain donor. Permasalahannya sekarang kita belum menemukan donor yang tepat. Saya khawatir umurnya tidak lama lagi sebab kondisinya semakin menurun. Anda lihat sendiri rambutnya sudah mulai rontok bukan?”

Wajah Minchul berubah pucat, ia tidak mau kehilangan satu-satunya keluarganya. Sejak orang tuanya meninggal 5 tahun lalu karena kecelakaan, ia hanya memiliki Hyojin adik kandungnya.
“saya baru dapat informasi ada dua orang yang mendonorkan sumsum tulang belakangnya, namun masih kami teliti cocok atau tidak dengan sang resipien”
“berarti masih ada harapan kan dok?” Tanya Minchul dengan perasaan campur aduk berharap-harap cemas.
“manusia hanya diwajibkan untuk berusaha, selebihnya serahkan kepada Yang Di Atas” ucap Dokter Joo mengakhiri pembicaraan mereka.

ooOoo

“Lihat… cocok sekali bukan?” komentar Kimjun.
Shin Hyojin membenarkan topi rajutan warna biru muda di kepalanya. Ia terlihat kurang pede sejak rambutnya mulai rontok, maka Kimjun menghadiahkan topi rajutan.
“apa tidak aneh memakai seperti ini? Ini kan bukan musim dingin?” celetuk Hyojin
Kimjun tersenyum lalu menggeleng “siapa bilang? Tidak usah pedulikan pandangan orang. Bisa jadi kau malah menjadi trend setter. Kau tahu? Di Indonesia topi seperti ini sering dipakai banyak anak muda disana. Mereka yang beriklim tropis saja pakai seperti ini, kenapa kita musti malu?”

Mendengar perkataan Kimjun, Hyojin tersenyum sambil mematutkan topi yang ia pakai di depan sebuah cermin kecil.
“Hyojin-ssi waktunya pemeriksaan. Bagaimana kabarmu?” seru seorang dokter didampingi seorang perawat ketika memasuki ruangan.
“Baik Dok” jawab Hyojin cepat. Kimjun kaget, kenapa dokternya beda? Bukankah yang menangani Hyojin biasanya dokter Joo?
“Park In Young-ssi, Dokter Joo kemana?” Tanya Kimjun kepada perawat yang mendampingi sang dokter. Kimjun cukup mengenal perawat tersebut karena yang sehari-hari mendampingi Dokter Joo adalah dia.
“Dokter Joo saat ini sedang menangani pasien lain, jadi saat ini yang memeriksa adalah Dokter Nakamaru” jawab Park In Young
“Ini dokter Nakamaru Yuichi, dari Jepang! Jadi saat ini aku ditangani dua dokter, Hebat bukan?” sambung Hyojin yang disambut dengan senyum Kimjun.

Setelah pemeriksaan selesai, Kimjun mengantar Dokter Nakamaru dan perawat Park keluar ruangan. “ngomong-ngomong anda dari Jepang bukan? Kok bisa sampai bekerja disini?” Tanya Kimjun basa-basi kepada dokter Nakamaru
“hahaha… istriku orang Korea. Jadi jangan kaget jika ada dokter sepertiku bekerja disini ”
“benarkah?” Tanya Kimjun tidak percaya. pria dihadapannya ini mengangguk dengan sumringah.
“dia designer terkenal di Seoul, namanya Shin Ran Byul ”
“uhm… Shin Ran Byul? Dari butik HighStaR bukan?” tanyaku hati-hati
“iya betul, kau mengenalnya?”
“ya, kami sudah kenal lama. Aku sering bekerja sama dengan HighStaR untuk pemotretan catalog. Kebetulan pemilik butiknya adalah sahabatku”
“wah~ dunia memang sempit ya? Bisa bertemu dengan kolega istriku disini? Ngomong-ngomong soal Shin Hyojin. Sebenarnya karena kondisinya semakin memburuk makanya pihak manajemen rumah sakit menambah jumlah dokter yang menanganinya. Apalagi jumlah pasien dokter Joo sangat banyak, makanya aku ditugaskan untuk membantunya” ujar Dokter Nakamaru panjang lebar.
“oiya, kami permisi dulu. Masih ada pasien lain yang harus kami periksa. Annyeong…” ujar Dokter Nakamaru mengakhiri pembicaraan. “Annyeong Kimjun-ssi…” sambung perawat Park

ooOoo

Shin Hyojin meraba buku yang sejak tadi berada di pangkuannya. Ia mulai membuka dan mengamati isinya lembar per lembar. Senyum terkembang di bibirnya ketika melihat buku yang diberikan oleh Kimjun itu berisi foto-fotonya dalam beberapa pose natural. Buku tersebut dicetak khusus dengan cover eksklusive sehingga terlihat seperti photobook artis terkenal yang dijual di toko.

“persis seperti dalam novel Romance in Autumn -nya mycolorisland…” gumamnya pelan ketika tangannya terhenti di halaman terakhir yang tertulis dengan tinta berwarna emas “Be My Girl, Shin Hyojin…”
“kisah Kim Dongwan & Nisa Kim, apakah kisahku juga akan berakhir manis seperti mereka?” gumam Hyojin sekali lagi ketika mengingat kisah di novel Romance In Autumn yang baru ia selesaikan beberapa hari yang lalu.

“Saranghae oppa…” bisiknya pelan dengan mata berkaca-kaca. Bagaimana tidak disaat seperti ini support dari orang yang disayangi akan sangat membantu bukan?
“oiya, Jun oppa kemana lama banget? aku harus mencarinya. Ya… aku harus berterima kasih bukan?” tanyanya pada dirinya sendiri

ooOoo

Kimjun memutuskan kembali ke ruang rawat Hyojin tapi langkahnya terhenti karena Shin Minchul yang baru saja tiba di Rumah Sakit memanggilnya.
“Jun…!!!”
“hyung, kau baru datang?”
“bisa kita bicara sebentar?” tanyanya. Tanpa menunggu jawaban Kimjun, ia sudah menarik tangan Jun untuk duduk di deretan kursi pengunjung rumah sakit yang tepat berada di depan kamar Hyojin.
“Jun, keadaan adikku semakin memburuk. Aku khawatir…”
“aku tahu hyung, tadi dokter Nakamaru yang baru saja memeriksa Hyojin juga bilang seperti itu” jawab Jun dengan ekspresi yang tak kalah khawatir dibanding Minchul.

“bahkan, sekarang ia ditangani dua dokter. Donor sumsum tulang belakang-pun belum ditemukan. Kemarin hasil pemeriksaanku baru saja keluar, ternyata sumsum-ku tidak cocok. Kata Dokter Joo memang sulit menemukan donor untuk penderita leukemia, bahkan saudara saja belum tentu cocok” ujar Minchul dengan pandangan menerawang. Kimjun meletakkan tangannya di pundak Minchul untuk menguatkannya.
“ia pasti sembuh hyung, aku akan lakukan sesuai rencana kita. Sesuai permintaanmu…”
“Jun… benarkah itu? Lalu bagaimana dengan Jung Eun Ah? Maafkan aku telah membuatmu berada pada posisi yang sangat sulit”
Kimjun menghela nafas panjang “itu urusanku hyung, yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Hyojin… oiya bagaimana keadaan istrimu? ” ujar Kimjun mengalihkan perhatian.
“Hye Jae? Hehehe kamu akan segera menjadi paman !” jawab Minchul sumringah, sejenak terlupakan masalah Hyojin, adiknya.
“apa? Waah~ selamat ya?”
Tanpa mereka sadari sesosok tubuh berseragam rumah sakit menangkap pembicaraan mereka dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka…

ooOoo

“Oppa, aku ingin naik bianglala itu…” tunjuk Hyojin pada sebuah Bianglala. Hari ini Hyojin diijinkan dokter Joo pergi ke taman hiburan untuk refreshing karena tinggal di rumah sakit membuatnya bosan. Dokter Joo berpesan supaya Hyojin jangan dibiarkan terlalu lelah karena itu Kimjun menemaninya.
“Hyojin, sudah. Kita sudah terlalu lama bermain. Ingat pesan dokter Joo kalau kamu tidak boleh kelelahan” ujar Kimjun mengingatkan dan disambut dengan ekspresi cemberut Hyojin. Tapi bagaimanapun juga hati Hyojin begitu bahagia sebab bisa kencan dengan pria yang ia sukai sejak dulu. Ya… meskipun sejak kemarin ia mulai mengetahui kenyataan jika sikap Kimjun seperti ini hanya karena permintaan Shin Minchul, kakaknya. Sampai kapanpun Kimjun tetap menganggapnya sebagai adik sahabatnya.
“sudah kita duduk saja disana, istirahat dulu” tunjuk Kimjun pada kursi panjang yang berada di depan sebuah foodcourt.
“oppa, apa kau tidak mencintaiku?” Tanya Hyojin tiba-tiba sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kimjun. “mengapa kau bertanya seperti itu?” Tanya Kimjun heran, bukankah Kimjun sudah memberinya photobook itu? Apa ia tidak membaca halaman terakhirnya?
“jawab aku oppa, soalnya tadi kayaknya ada yang mengikuti kita terus. Wanita lagi, jangan-jangan oppa sudah punya pacar” perkataan Hyojin membuat alis Kimjun berkerut. Anak ini bicara apa? Pikir Kimjun
“aku familiar dengan wajahya. Dan sepertinya aku pernah bertemu dengannya di acara pernikahan kakakku dengan Hye Jae eonni”
reflek Kimjun menggeser duduknya membuat Hyojin berhenti bersandar di pundak Kimjun. “Song Ji Yoo?” Tanya Kim Jun, Hyojin menggeleng. “Eun Kyung? Ji Bin? Hyo Kyung?” Hyo Jin masih saja menggeleng.
“bukaannnn… Jung… Jung Eun Ah. Ah iya! Benar Jung Eun Ah!”
Jawaban Hyojin membuat batin Kimjun tercekat. Bagaimana tidak? Ia sudah membatalkan janji dengan Eun Ah, kekasihnya untuk “berkencan” dengan Hyojin. Bagaimana jika benar? Bagaimana ini?

ooOoo

“Oke selesai! Terima kasih semuanya…” ujar Kimjun pada semua kru pemotretan. Kali ini ia sedang menangani photoshoot album terbaru Shin Hye Sung, seorang penyayi yang dijuluki Prince of Ballad. Negosiasi yang dilakukan dua asistennya Park Yunhwa & Park Hanbi membuahkan hasil memuaskan, bahkan Liveworks Company juga meminta Kimjun untuk menangani photoshoot album terbaru Lyn, soloist wanita yang juga berada dibawah manajemen yang sama dengan Shin Hyesung.
Kimjun melirik Shin Hyojin yang duduk di pojokan ruangan sendirian. Lagi-lagi ia terpaksa menuruti kemauan Hyojin untuk kesekian kalinya. Padahal oleh Dokter dianjurkan untuk tidak keluyuran dulu tetapi ia terus merengek dengan alasan bosan terus berada di rumah sakit.

“Hyojin, kau lihat apa?” Tanya Kimjun sambil menggerakkan tangannya di depan wajah Hyojin.
“ah, oppa. Aku hanya kagum dengan model wanitanya” jawab Hyojin. Pandangan Kimjun melayang ke arah model wanita yang menggunakan gaun pengantin berwarna putih.. photoshoot kali ini memang berkonsep wedding, jadi baik Shin Hyesung maupun sang model wanita menggunakan baju pengantin.
“aku juga ingin memakai gaun seperti itu…” gumam Hyojin tiba-tiba

ooOoo

“wow… Hyojin-ssi kau terlihat cantik sekali” seru Shin Hyesung
“ah… terima kasih Shin Hyesung-ssi” jawab Hyojin kegirangan sebab dipuji seorang superstar sekelas soloist yang juga member boyband legendaris Korea itu.

Hyojin mulai berpose di depan kamera. Awalnya Kimjun merasa sedikit aneh melihat wajah Hyojin sebab terlihat sangat pucat. Namun, kemudian ia berfikir mungkin karena efek make up.
Baru jepretan pertama, Hyojin sudah agak limbung. Tetapi ia terus memaksa tubuhnya untuk berdiri dan berpose di depan kamera.
Tiba-tiba darah segar keluar dari hidung Hyojin. Ia mimisan. Karena darahnya cukup banyak yang keluar membuat orang seisi studio panik.
“Hyojin… Hyojin..!!!” teriak Kimjun cemas
“Oppa, aku tidak apa-apa kok” ujar Hyojin, namun sesaat kemudian ia tak sadarkan diri.

ooOoo

sebuah mobil melaju kencang membelah jalanan kota Seoul yang cukup padat. Terlihat orang di belakang kemudi begitu serius bercampur cemas, Kimjun. Di kursi belakang ada Hyojin dan kakaknya Shin Minchul yang langsung menjemput mereka ketika mendapat kabar Hyojin pingsan.
“Hyojin, aku mohon bertahanlah…” ucap Minchul begitu khawatir. Dilihatnya wajah sang adik yang tirus, pucat dan sudah dalam kondisi sadar namun masih lemas. Darah yang keluar dari hidungnya sudah mongering meninggalkan noda darah kering di pipinya.

“oppa… bolehkah aku tidur? Aku ngantuk…”
“jangan! Jangan tidur Hyojin, kita sudah menemukan orang yang akan mendonorkan sumsumnya untukmu. Kamu pasti akan sembuh… aku mohon bertahanlah” sekarang Minchul semakin takut mendengar ceracauan adiknya itu, ia takut jika kehilangan satu-satunya adik kandungnya.
“tapi oppa… Hyojin capek, Hyojin lelah. Hyojin pengen tidur, Hyojin ngantuk…”
Kimjun yang mendengarnya ikut dapat merasakan aura ketakutan Minchul sekarang. Tak terasa ujung matanya juga basah.
“Hyojin tidur ya oppa? Hyojin lelah…”
“TIDAK………………….!!!!! HYOJIN……………………!!!!!”

ooOoo

“Jun…” panggil Minchul. Kimjun menoleh lemah. Tidak ada satupun orang hari ini yang berekspresi ceria. Semuanya yang hadir memakai baju hitam-hitam itu berkespresi yang sama, kelabu & sedih.
Ya, Shin Hyojin meninggal. Operasi yang dijalaninya ternyata gagal menyebabkan nyawanya tidak tertolong lagi. Beberapa keluarga, sahabat dan kolega Shin Minchul ikut menghadiri pemakaman. Shin Hye Jae terlihat memegang erat lengan suaminya untuk menguatkannya.
“ini, sebelum meninggal. Hyojin menyerahkan ini padaku. Ia berpesan untuk nantinya supaya diserahkan padamu” ujar Minchul lemah sembari menyerahkan sebuah buku. Buku diary Hyojin.

Oppa…
Terima kasih atas semuanya, setumpuk novel, cerita lucu, taman hiburan, topi rajutan, dan motivasi yang selama ini yang kau berikan.
Dan… yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan sampai di surga nanti , Photobook itu dan tentang perasaanmu.
Ya… sebenarnya aku tahu oppa melakukan semua ini karena permintaan Minchul oppa bukan?
Meski ini hanyalah sebuah kebohongan, kuucapkan terima kasih karena dirimulah yang mencerahkan hari-hariku yang dulunya begitu kelabu.
Meski ini hanyalah sebuah kebohongan, kuucapkan terima kasih karena dirimulah yang membangkitkan kembali semangat hidupku. Walau pada akhirnya aku kalah dan menjadi pecundang dari lawanku bernama leukemia itu…
Even it’s a lie… thank you…

[THE END]

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 4, 2011 in Fan Fiction, Korea

 

Tag: ,

One response to “[Fan Fiction] Even it’s a Lie

  1. Milkyta Lee

    Februari 18, 2012 at 11:30 am

    SPEECHLESS MAMPUS NANGIS SEDIH DAN GA TAU APA LAGI!!!enak di baca…bahasanya enaaaakkkkk bgt di baca ^^ kakak!!tetaplah menjadi guru menulis aku ^^

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: