RSS

[Fan Fiction] Romance in Autumn ~ part 2

17 Agu

Kim Dong Wan

Author : Sofie Junnosuke (mycolorisland)
Genre : romance
Rate : All Age

Cast : Kim Dongwan (Shinhwa), Nisa Kim (Shinhwa Changjo)

Special Appearance : Junjin (Shinhwa), Shin Hyesung (Shinhwa), Lee Minwoo (Shinhwa), Eric Mun (Shinhwa), Andy Lee (Shinhwa), Lee Jinsung (Monday Kiz), Shin Kihyun (ex-member Battle, actor), Lim Soojin, Kiran Khan, Kim Yeonhee

Disclaimer: this story originally from my own imagine, plagiat is not good for your health ^^.

~Part 1~
………

“dia siapa? Sepertinya aku familiar dengan wajahnya” bisikku saat kupandang ia dari kejauhan. Pria itu masih berdiri di sana dengan kamera di tangannya. Tunggu dulu! Kamera? Apakah ia pria yang kemarin itu? Bagaimana bisa aku merasakan sensasi yang sama dengan orang ini? Sensasi yang membuat jantung berdegup kencang…
Kugenggam erat id card-ku. Apakah ia membaca namaku di id card ini? Ingin rasanya aku berteriak “Hey! Namaku Nisa Kim…!!!” tapi sungguh aku tak mampu. Ia masih saja berdiri di sana. Apakah suatu saat kita bisa bertemu lagi Mr. Camera?

baca “Romance in Autumn part 1” selengkapnya [ klik disini ]

………

~Part 2~

ooOoo

Hari ini pekerjaanku banyak sekali. Saat mendekati deadline memang waktu yang paling menyiksa bagi semua wartawan sepertiku. Laptop, berkas liputan, bolpoin, dan secangkir kopi menjadi teman setia disaat seperti ini. Tapi rasa lelah itu akan seketika hilang ketika membaca nama kita berada di akhir artikel majalah yang masih hangat setelah selesai dicetak. Jari-jemariku terus bergerak lincah di keyboard laptop sebelum akhirnya dikagetkan dengan sapaan seseorang.

“Unnie !!!”

Aku tersentak kaget. Bukannya merasa bersalah, sahabatku yang bernama Lim Soo Jin ini malah senyum-senyum tak karuan. Kurasa otaknya mulai bermasalah, mengingat seluruh desk redaksi d’style sedang sibuk dikejar deadline. Alhasil suasana kantor sangat tegang, tak seorangpun menggambar sebuah sunggingan di bibir mereka.

“Soo Jin ! kau hampir membuat jantungku copot”
“Unnie! Aku berhasil mewawancarai Shin Hye Sung! Kau tahu? Album terbarunya yang berjudul The Road Not Taken sedang jawara Hanteo chart. Aku hebat bukan?”
“Apa? Kau berhasil mewawancarainya? Secara langsung?” teriakku tak percaya yang langsung disambut anggukan berkali-kali Soo Jin.

Ya, ya, aku bisa memahaminya. Shin Hye Sung, siapa yang tidak kenal dia? Penyanyi Ballad kenamaan Korea yang terkenal dengan jadwalnya yang padat sehingga sulit diwawancarai wartawan secara personal. Kadang aku iri dengan kru dari desk entertainment seperti Soo Jin yang sering bertemu dengan artis terkenal.

“unnie! Lihat, Shin Hye Sung menandatangani album The Road Not Taken-ku!” pekiknya kegirangan sambil menunjukkan cover album yang telah dububuhi tanda tangan dengan spidol hitam. Aku hanya mendengus kesal, mengingat kejadian ketika aku harus berdesak-desakan mengantri untuk membeli album dengan cover berwarna orange itu di CD Store. Hasilnya sangat mengecewakan, aku kehabisan stok.

Soo Jin kemudian duduk dimejanya. Namun, ocehannya tentang Shin Hye Sung belum berhenti sampai disitu. Ia bercerita bagaimana tampannya Shin Hye Sung jika dilihat secara langsung, betapa tingginya dia, betapa cute-nya dia, betapa stylish-nya dia, dan bla bla bla bla. Untung kali ini dia tidak lebih cerewet dibanding ketika dulu ia sukses mewawancarai Monday Kiz, grup ballad favoritnya. Jika tidak, dengan terpaksa akan kusumpal kedua kupingku dengan kapas.

“Oiya, tadi ada pesan dari ketua redaksi supaya unnie segera menemuinya” lanjutnya.

Tanpa basa-basi lagi langsung kutinggalkan meja dan kutemui ketua redaksi di ruangannya.

“Nisa-ssi, aku baru saja mendengar kabar jika seorang fotografer terkenal dari Perancis baru saja pindah ke Korea. Bisakah kau wawancarai dia? Pak Presdir menginginkan dia menjadi cover majalah kita bulan depan”

“Ta..tapi pak, ini sangat mendadak. Bukankah hasil rapat menyatakan jika cover majalah bulan depan adalah Shin Hye Sung? Seluruh artikel liputan untuk bulan depan juga sudah fix, tidak ada space untuk artikel baru pak. Lagi pula 3 hari lagi naik cetak”

“ya, aku tahu maksudmu. Tapi keputusan dari atas juga mendadak, sudah diputuskan Shin Hye Sung nanti jadi cover belakang. Dan fotografer itu akan jadi cover depannya. Kita harus bergerak cepat jika tidak mau didahului majalah lain. Fotografer itu sangat terkenal di Paris. Ini akan sangat mendongkrak omset penjualan majalah kita”

Aku tertunduk lemas, mengingat artikelku tentang tren fashion musim gugur belum selesai tapi sudah ditambah dengan tugas lain di tengah suasana tegang. Ah, andai saja rekan kerjaku di desk fashion, Kiran Khan si gadis India bermata indah itu masih disini, semua pasti akan baik-baik saja. Seminggu yang lalu ia memutuskan kembali ke India karena kondisi keluarganya yang sedang tidak baik. Sebenarnya oleh bagian personalia, Kim Yeonhee wartawan dari desk sport yang akan menggantikan posisi Kiran. Tetapi, yang menyedihkan adalah kepindahannya ke desk fashion baru dilakukan bulan depan. Menyedihkan bukan?

Tapi mau bagaimana lagi? Jika mengulur waktu yang ada adalah pekerjaan yang semakin menumpuk dan tidak segera selesai. Jadi kuputuskan siang ini juga kutemui fotografer itu, jika tidak bisa wawancara paling tidak aku sudah membuat janji wawancara untuk keesokan harinya. Setelah menghubunginya via telepon, ia bersedia diwawancara jam 2 siang ini.

“Aish… kenapa juga tadi pakai acara taxi terjebak macet segala?” gerutuku. Disaat-saat penting seperti ini pasti ada saja halangannya. Kudengar dari Lee Minwoo-ssi, fotografer yang konon sangat terkenal di Paris itu adalah tipikal pria yang disiplin & sangat tidak mentolelir keterlambatan. Bagaimana nasibku nanti jika terlambat? Oh Tuhan… tolong lambatkan sedikit waktunya…

Aku mengambil langkah besar-besar, panjang, & terburu-buru.

BRUK !!!

“Ah, maaf… saya tidak sengaja. Apakah anda baik-baik saja?” tanyaku panik ketika tersadar ternyata aku telah menabrak seseorang karena tidak hati-hati berjalan. Kubantu ia memungut barang-barangnya yang terjatuh.

“Argghh… sial!” umpatnya pelan. Aku hanya bisa menggigit bibir, cemas. Pria itu memungut kameranya & melihat ternyata lensa kameranya pecah.

“kau tahu berapa harga lensa kamera ini? Ini sangat mahal !” teriaknya.
“maaf, maaf,saya tidak sengaja”
“apa dengan maaf, lensa kameraku akan kembali seperti semula? Ayo cepat ganti!”
“tapi.. saya sedang terburu-buru sekarang, tidak ada waktu. Ah, begini saja…” kurogoh tas & kuambil selembar kartu nama.
“ini kartu nama saya, cari aku di alamat ini. Nanti pasti saya ganti, saya janji. Maaf saya harus pergi sekarang” ujarku cepat lalu berlalu meninggalkannya yang masih mematung menerima kartu namaku. Sudah tidak ada waktu lagi, aku harus cepat-cepat jika tidak mau terlambat.

DEG… DEG…DEG…

Mendadak langkahku terhenti.

mengapa jantungku mendadak berdegup kencang sekali?” gumamku pelan, reflek kubalikkan badanku. Pria berkamera itu masih berdiri disana…

ooOoo

[Dongwan POV]

“sudah empat kali…” gumamku tersenyum sembari memandangi selembar kartu nama bertuliskan nama seorang reporter. Kami kembali bertemu beberapa menit yang lalu. Meski harus dibarengi insiden tabrakan di trotoar yang membuat lensa kamera kesayanganku pecah, tapi jujur terselip rasa yang sulit aku deskripsikan.

“mungkinkah kita berjodoh nona Nisa Kim?”

Lagi-lagi aku tersenyum dibuatnya. Bukankah jika pria dan wanita yang tidak saling mengenal dan mereka dapat bertemu untuk ketiga kalinya, maka sebenarnya takdirlah yang mempertemukan mereka?. Ini bukan lagi pertemuan ketiga, tetapi keempat. Dan kali ini membuatku semakin gila. Senyum-senyum sendiri tidak karuan. Apa kata orang jika melihatku seperti ini? Bisa-bisa mereka mengira aku pasien yang kabur dari rumah sakit jiwa. Tapi apa iya, ada pasien rumah sakit jiwa setampan aku ini? Hahahaha

TING TONG !!!

Mendadak bel apartemen berteriak memberitahuku jika ada tamu yang sedang berada dibalik pintu.

“Ya, siap—–?” kata-kataku tersangkut di tenggorokan & tak mampu kuselesaikan ketika melihat sosok yang ada dibalik pintu.
“Kau !!!” teriakku
Kulihat ia hanya membuka mulut namun sama sekali tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kurasa ia begitu kaget.
“Kim.. Kim Dong… Wan-ssi?” tanyanya meyakinkan dengan terbata-bata. Aku hanya mengangguk.
“Ehm.. maaf mengganggu, saya reporter majalah d’style ingin mewawancarai anda. Apa anda ada waktu?”
“oo… mau wawancara?”

Ia hanya mengangguk & memajang tampang innocent-nya. Apa ia tidak ingat insiden tadi?

“tidak bisa! Ganti dulu lensa kameraku. Baru nanti aku mau diwawancara” jawabku cepat sambil menutup pintu. aku tidak bisa menahan tawa. Bagaimana aku bisa berakting seperti ini? Seolah-olah benar-benar marah. Memang, itu kamera kesayanganku. Tapi yang rusak kan cuma lensanya. Tunggu dulu! Cuma lensa? Cuma? Lensa kamera harganya begitu mahal kubilang Cuma? Oohh… tidak! Rasanya aku benar-benar gila sekarang.

Kudengar ia berteriak dari balik pintu, bahwa ia mendapat tugas dari boss-nya untuk mewawancaraiku. Ia mengancam untuk terus bertahan di depan pintu apartemen sampai aku mau membukakan pintu untuknya.
Satu jam… aku biarkan ia tetap di luar pintu.

Dua jam… aku mulai mengintipnya melalui lubang pintu. Ah, dia masih ada.

Tiga jam… aku mulai resah, apa yang harus kulakukan?. Ah, aku menyerah.

“cepat masuk…” ucapku ketika membukakan pintu

“jadi anda bersedia diwawancara?” tanyanya dengan semangat sembari memamerkan deretan gigi putihnya. Aku hanya mengangguk. Kali ini aku kalah dengan keteguhan hatinya

===

“Bagaimana?” Tanya Eric penasaran sembari menyeruput espresso-nya
“ya, lumayan…” jawabku simple
“lumayan bagaimana? Lihat, wajahmu itu tak henti-hentinya tersenyum. Kurasa aku harus menelpon rumah sakit jiwa karena sahabatku yang satu ini mulai tidak waras” ucap Eric bercanda sembari berpura-pura mengeluarkan ponselnya.

Kupandangi kotak kardus berwarna cokelat tua di atas meja, yang kutahu isinya apa. Nisa Kim, wartawan itu mengirimkan lensa kamera yang ia pecahkan tempo hari. Tak lupa ia kirimkan juga satu eksemplar majalah d’style yang covernya terpajang fotoku.

“ayolah kawan… apalagi yang bisa kubantu?” Tanya Eric masih denganrasa penasaranya.
“Eric, sepertinya aku harus sedikit jual mahal…”
“hhmmpphh… jual mahal? Kau ini aneh-aneh saja” kali ini tawa Eric meledak, aku hanya tersenyum kecut.
“dasar, kau ini tidak mengerti atau apa? Ini adalah trik. Kau tahu, jika baru beberapa kali bertemu tetapi sang pria sudah menyatakan cinta justru kita dianggap pria yang tidak serius, doyan mempermainkan hati wanita. Aku hanya ingin membuat hatinya penasaran”
“ya… ya… terserah kau sajalah”

[Dongwan POV end]

ooOoo

“Apa??? Double date?” mataku terbelalak lebar mendengar ajakan dua rekan kerjaku ini. Nyaris saja aku tersedak. Aku, Soo Jin, dan Yeon Hee sedang makan siang di kantin kantor.

“iya, ayolah unnie ikut kami. Ya? Hanya acara makan malam biasa” ujar Yeon Hee dengan mengedip-ngedipkan matanya seperti orang kelilipan. Aku hanya mendelik.

“Tidak bisa! Kalian mau aku mati gaya? Kau Soo Jin, pasti dengan sekretaris Lee bukan?” seruku sambil menunjuk mukanya dengan sendok. Kekasihnya, Lee Jinsung adalah sekretaris Presiden Direktur kami. “Dan kau Yeonhee, pasti dengan atlet sepak bola itu kan? Aah. Siapa namanya ya? Aku lupa. Shin.. Shin… siapa?”

“Shin Ki Hyun!” sambar Yeon Hee cepat. Oiya, Shin Ki Hyun adalah atlet sepak bola tim nasional Korea. Tubuhnya sangat tinggi, punya tampang layaknya seorang model dan tentu saja dibarengi skill yang bagus. Aku yakin, Yeon Hee mengenalnya gara-gara meliput kegiatan tim sepak bola tersebut waktu ia masih ditugaskan di desk sport. Namun, dua bulan yang lalu ia dipindahkan ke desk fashion. Bidang yang sangat bertolak belakang bukan?

“aha!” tiba-tiba Soo Jin menjentikkan jarinya pertanda ia sedang mendapat segepok ide brilian.

“ada apa?” tanyaku dan Yeon Hee yang hampir bersamaan.

“Unnie, kau ajak saja Kim Dong Wan-ssi. Bagaimana?” usulnya dengan semangat. Alisku mengkerut, masih berusaha mencerna kata-katanya.

“Soo Jin, maksudmu Kim Dong Wan yang fotografer itu?” Tanya Yeon Hee antusias, reflek membuatnya tersenyum penuh arti. “cie cie…. Ehm ehm…” goda Yeon Hee, ingin rasanya aku menjitak kepala gadis ini.
“apakah mungkin bisa? Kami memang sering bertemu. Tapi itu kan karena urusan profesionalisme” ujarku lemas. Aku sendiri tidak sadar mengapa semangatku mendadak menguap seperti ini. Ya, sudah 2 bulan sejak aku mengenal sosok fotografer itu. Rasanya memang aneh jika berada di dekatnya. Rasanya ingin berlari menjauhinya, tetapi jika sudah menghindar atau tidak bertemu dengannya justru malah ingin bertemu. Aku bingung. Lagi pula, sikapnya terlihat sangat professional. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan jika ia memiliki debaran yang sama seperti yang aku rasakan.

Soo Jin & Yeon Hee masih sibuk membicarakan acara double date nanti malam ketika kami berjalan menuju ruangan kami. Bahagia rasanya jika ada pria yang mengajak kita berkencan. Ya, walau kencan ramai-ramai begitu. Itu mereka, sedangkan aku?

Mendadak langkah kami terhenti, karena kami harus member salam kepada rombongan Presiden Direktur kami yang sedang lewat. Disamping Presdir Mun ada sekretaris Lee yang dengan lihainya memberikan kode kepada kami “jangan lupa acara nanti malam ya?” dengan isyarat tangan yang menunjuk ke jam tangan yang ia pakai. Dan yang membuat jantungku berhenti berdetak adalah sesosok pria tegap & tampan sedang berbicang dengan Presdir Mun. Adegan slow motion yang hanya beberapa detik itu sesaat membuatku sejenak terpaku. Aku yakin, ia mengetahui keberadaanku. Mata kami sempat bertatapan tadi, tapi mengapa seakan-akan ia tidak mengenaliku? Jika tidak menyapa, bukankah sekedar melayangkan sebuah senyum saja itu sudah cukup?

”Unnie, ada Kim Dong Wan-ssi” bisik Yeon Hee menyikut lenganku.

Pikiranku masih ruwet dengan kejadian setelah makan siang tadi. Beruntung aku masih dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Setelah mematikan komputer dan membereskan meja kerja, segara kusambar tasku dan pulang. Aku ingin segera istirahat sesampainya di rumah nanti. Tepatnya sih menghidari ajakan double date Lim Soo Jin & Kim Yeon Hee. Entahlah, suasanaku mendadak tidak enak. Terselip rasa sebal kepada mereka, harus kuakui aku iri. Ya, aku iri.

Kulihat di lobi kantor, Soo Jin & sekretaris Lee sudah siap tinggal menunggu satu orang lagi. Siapa lagi jika bukan Shin Ki Hyun?. Yeon Hee terlihat mondar-mandir cemas menunggu seseorang yang ”menembaknya” beberapa hari yang lalu di lapangan sepak bola. Tak lama kemudian, pria yang terlihat sporty muncul.

”Unnie, ayo ikut kami” teriak Soo Jin

”Nisa-ssi, ayo…” ajak sekretaris Lee. Aku hanya tersenyum & menggeleng

Kulangkahkan kakiku menuju pintu keluar kantor. Berat rasanya menolak ajakan mereka. Tapi rasanya tidak enak juga jika nantinya aku akan mengganggu kencan mereka. Ya sudahlah mungkin ini bukan rejekiku.

”Aku akan ikut kalian!” seru seseorang yang mendadak menarik lenganku dan menyeretku ke hadapan Soo Jin, sekretaris Lee, Yeon Hee, dan Kihyun. Jujur, saat ini pikiranku belum terkoneksi sepenuhnya. Apa aku sedang bermimpi? Itu suara yang telah membuat hatiku tak karuan 2 bulan terakhir ini. Jika aku sedang bermimpi tolong lakukan sesuatu yang akan membuatku tersadar dari mimpiku.

Kutolehkan wajahku kepada pria yang menarik lenganku tadi. Dia seperti pria yang kukenal?

”Kim Dong Wan ??????” pekikku keras

Ia tersenyum seperti biasa, manis.

”Ayo kita pergi bersama” ajaknya

[TBC]

 

Shin Ki Hyun, dia bakal sering nongol di fanfic-fanfic mycolorisland selanjutnya hahahaha

 
15 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 17, 2011 in Fan Fiction, Korea

 

Tag: , ,

15 responses to “[Fan Fiction] Romance in Autumn ~ part 2

  1. springofmonday

    Agustus 17, 2011 at 5:44 pm

    Kyaaaa~
    endingnya.. whoah…
    sukasukasuka~

    brarti bkal 3ple date dong jdnya?
    whoa~

    ada jinsung ama soojin.
    oh yeah~
    thanks onn.. XDD

    Onn tar shin hyesung bkal jd cameo ga? *ngarep* lol

     
    • mycolorisland

      Agustus 17, 2011 at 10:12 pm

      makasih i ^^

      iya Jinsung & Soojin ngeksis di ff-ku, soalnya mau bikin suasana baru. bosen juga dengan cast yang itu-itu aja.

      Shin Hyesung… ada sih, cuman bingung buat scene yang mana hehe, ditunggu aja. part 3 udah 50% dijamin romantis abis ^^

      *bayangin Dongwan oppa*

       
  2. Yatiex

    Agustus 17, 2011 at 11:29 pm

    Sist, , aq blm baca yg part 1, aq klik kok g mau y?
    Aq senyum2 sdr baca ini, , byangn yg t”cipta dibenakQ sgt2 indah. .

     
  3. Yatiex

    Agustus 17, 2011 at 11:36 pm

    Ada perpaduan karakter Gu jon pyo disini. . . Hehe. .

     
  4. mycolorisland

    Agustus 18, 2011 at 9:34 am

    @yatiex wah ternyata pas kucoba beneran g bs, y ntar aku edit lagi deh. Hehe tengkies ya sist dah baca

    hoho syukur deh kalo pendiskripsianku mampu bikin bayangan di pikiran yg baca. Eh? karakter goo junpyo yang mana?

     
  5. Yatiex

    Agustus 18, 2011 at 9:48 am

    Wkt tabrkan, , trs bentak nisa kim. Yg ada dibynganku wkt jun pyo marah, , haha. Tp rasional jg y, , aq umpomo gawa kamera trs ditbrak KNG oppapun akn marh duluan, , haha. .

     
  6. mycolorisland

    Agustus 18, 2011 at 10:22 am

    ahahaha ngarep! Ditabrak KNG oppa hahahaha *guling guling*

    yakin deh kl yg nabrak KNG ntar minta ganti rugi trus biar ketemuan lagi kan? Hayo ngaku?😄

     
  7. Amy Kanzaki

    Agustus 18, 2011 at 1:30 pm

    wah akhirnya part 2 ada juga, lama banget nungguinnya eon

    makin seru nih ceritanya, kira kira ntar ending ceritanya gimana ya? Penasaran hihihi

     
  8. Yatiex

    Agustus 18, 2011 at 2:33 pm

    Ganti ruginya aneh cuma mnt ttd aja sist^^
    *diats surat nikah*
    wkwk. . .

     
    • mycolorisland

      Agustus 18, 2011 at 3:49 pm

      waduh… ganti ruginya keren amat. akta nikah bow… ^^

       
  9. springofmonday

    Agustus 18, 2011 at 7:57 pm

    Asik…
    sama2 onn..!

    btw onn,mas dongwannya jangan dibayangn aja..
    mikirin mas dongwan sm ja dg mkirin i loh.
    hahaha..!
    kn i “kembar” ma mas dongwan. XDD

     
  10. mycolorisland

    Agustus 19, 2011 at 12:30 am

    nggak ah, ntar dimarahin Nisa unnie. Dia kan istri sahnya Dongwan oppa hahaha

    eeeh sejak kapan i jadi kembarannya Dongwan oppa? Ekekeke *ga bs bayangin*

     
  11. springofmonday

    Agustus 20, 2011 at 9:23 pm

    Sjak dlhirkan. ^^
    bwahahaha~ *jleb*

    engga ding.
    i kn ma mas dongwan ultahnya bareng onn.
    cm bda taun doang, bulan ma tanggalnya mah sama. XDD *bangga*

     
  12. aisyahyesung

    Februari 11, 2014 at 1:10 pm

    cie cie kalau cinta bilang aja hehehe

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: