RSS

[Fan Fiction] Romance in Autumn ~ part 3 final

06 Sep

Author  : Sofie Junnosuke (mycolorisland)

Genre  : romance

Rate    : All Age

Cast     : Kim Dongwan (Shinhwa), Nisa Kim (Shinhwa Changjo)

Special Appearance : Junjin (Shinhwa), Shin Hyesung (Shinhwa), Lee Minwoo (Shinhwa), Eric Mun (Shinhwa), Andy Lee (Shinhwa), Lee Jinsung (Monday Kiz), Shin Kihyun (actor), Lim Soojin, Kiran Khan, Kim Yeonhee

Disclaimer: this story originally from my own imagine, plagiat is not good for your health ^^.

Romance in Autumn ~ part 1 [klik disini]

Romance in Auntumn ~ part 2  [ klik disini ]

 

== Previous part ==

Kulangkahkan kakiku menuju pintu keluar kantor. Berat rasanya menolak ajakan mereka. Tapi rasanya tidak enak juga jika nantinya aku akan mengganggu kencan mereka. Ya sudahlah mungkin ini bukan rejekiku.

”Aku akan ikut kalian!” seru seseorang yang mendadak menarik lenganku dan menyeretku ke hadapan Soo Jin, sekretaris Lee, Yeon Hee, dan Kihyun. Jujur, saat ini pikiranku belum terkoneksi sepenuhnya. Apa aku sedang bermimpi? Itu suara yang telah membuat hatiku tak karuan 2 bulan terakhir ini. Jika aku sedang bermimpi tolong lakukan sesuatu yang akan membuatku tersadar dari mimpiku.

Kutolehkan wajahku kepada pria yang menarik lenganku tadi. Dia seperti pria yang kukenal?

”Kim Dong Wan ??????” pekikku keras

Ia tersenyum seperti biasa, manis.

”Ayo kita pergi bersama” ajaknya

 

== part 3 ==

[Nisa POV]

 

Hari ini sudah sekitar 2 bulan aku mengenal sosok Kim Dongwan, sekarang kami berteman baik. Kami juga sering bertemu. Saking seringnya apa ini bisa disebut takdir?. Aku juga sudah mengganti lensa kamera yang kupecahkan. Meski waktu itu dia sempat protes sebab aku membutuhkan waktu sedikit lama untuk bisa mengganti barang semahal itu. Apalagi ia fotografer professional, mana mungkin kubelikan barang yang tidak jelas kualitasnya.

Malam ini, bagaikan sebuah mimpi. Kami bersama Sekretaris Kim, Lim Soojin, Kim Yeonhee, dan Shin Kihyun makan malam bersama. Rasanya sedikit aneh duduk disampingnya. Ada semacam perasaan yang membuatku tidak nyaman. Deg deg-an tak karuan.

“waah~ makanan disini ternyata enak ya?” seru Soojin gembira

“tentu saja, restoran berkelas seperti ini mana mungkin menghidangkan makanan kualitas miring?” timpal Jinsung sembari menyuapkan pasta ke mulutnya.

“Kihyun-ssi, mengapa kamu makin tampan saja dengan rambut barumu itu” komentarku tentang rambut cepak Kihyun. Dulu ia termasuk pria yang suka tampil dengan rambut sedikit panjang dan dicat cokelat terang, namun sekarang rambutnya hitam kelam dengan haircut pendek. Terlihat lebih rapi dan auranya semakin keluar ^^

“aah~ unnie tidak boleh melihat Kihyun!, Kihyun hanya untuk Yeonhee !” rengek Yeonhee. Seketika membuat kami tertawa terpingkal-pingkal karena ulah Yeonhee yang kali ini terlihat sangat kekanak-kanakan.

“Boleh aku bergabung dengan kalian?” tiba-tiba terdengar suara husky yang membuat kami serempak menoleh kearah pria berjas hitam dengan dasi berwarna merah maroon itu.

“ah! Junjin-ssi, silakan duduk” sambutku riang. Seorang pelayan kemudian datang memberikan satu kursi lagi untuk Junjin. Setelah memperkenalkan diri pada yang lain, ia duduk tepat disamping kiriku. Sementara pria disamping kananku mulai bertingkah sedikit aneh. Kim Dongwan.

Kami terlibat percakapan dengan atmosfer cukup menyenangkan. Apalagi ketika Soojin mendengar Junjin adalah CEO sebuah perusahaan manajemen artis yang cukup besar di Korea. Ia menjadi sangat bersemangat, apalagi jika bukan karena semakin banyaknya channel yang ia bangun sebagai seorang wartawan desk entertainment. Bukankah hal seperti ini akan sangat membantunya suatu saat nanti?

“Nisa-ssi, maaf ada saus pasta di bibirmu” ujar Junjin seraya membersihkan bibirku dengan sapu tangannya. Aku kaget & kikuk.

“maaf, bisa kulakukan sendiri” kuraih sapu tangan dari tangannya. Aduh rasanya begitu malu. Bisa-bisanya terjadi hal seperti ini.

Tiba-tiba Dongwan meletakkan garpunya diatas piring dengan keras. Apa-apaan dia ini? Tingkahnya aneh sekali. Sementara itu empat pasang mata menatapku, Junjin, & Dongwan secara bergantian dengan tatapan mata sedikit aneh. sebenarnya bukan aneh, hanya saja aku tidak mengerti maksud tatapan mereka. Sedikit janggal.

Setelah selesai makan, kami menikmati pertunjukan music klasik yang disuguhkan oleh pihak pengelola restoran. Baru kali ini aku merasakan makan malam yang begitu special. Meski beramai-ramai seperti ini tidak mengurangi suasana romantisme yang tercipta melalui dekorasi, tata lampu restoran, serta iringan music klasik yang menenangkan. Kulihat beberapa pasangan berdansa di depan. Soojin & Sekretaris Kim juga berdansa di depan, namun tidak dengan Yeonhee. Ia bersikukuh tidak mau berdansa meski Kihyun membujuknya berkali-kali.

“Nisa-ssi, mau berdansa denganku?” Tanya Junjin. Kulihat ia sudah mengulurkan tangan kanannya. Aku bingung.

Mendadak kursi sebelah kananku berderak keras, Dongwan tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya kemudian pergi begitu saja. Raut wajahnya juga semakin aneh sejak kedatangan Junjin tadi,

“Unnie, cepat susul dia” seru Yeonhee

Dengan pikiran yang baru setengah tersadar kuputuskan untuk mengejarnya  setelah mengucapkan berpamitan.

 

“Kim Dongwan!” teriakku dengan nafas tersengal-sengal namun ia tetap melangkahkan kakinya dengan lebar & cepat sehingga aku kesulitan mengimbangi langkahnya.

“hei! Tunggu! Kau mau pergi kemana?”

“Kim Dongwan! Kau marah?” tanyaku, ia hanya diam. Dari sorot matanya dapat kubaca ada aura kemarahan disana.

“aku dan Junjin-ssi tidak ada hubungan apa-apa. Kami memang pernah dijodohkan orang tua kami. Tapi itu dulu” ujarku cepat, seketika membuat langkahnya terhenti. Ah! Mengapa aku begitu bodoh mengucapkan semua ini? Ingin rasanya memutar waktu beberapa menit saja dan menelan kembali kata-kata barusan. Bagus Nisa Kim, sekarang kau terlihat seperti orang bodoh di hadapannya. Bagaimana reputasimu nantinya? Aku hanya bisa menggigit bibir.

Dongwan berbalik dan menatapku. Kali ini ia berhasil membuatku berdiri mematung bak ratu yag telah dikerubung patih, benteng, menteri, dan pion lawan dalam papan catur. Skak!

“kau ini kenapa? Aku tidak memintamu menjelaskan seperti tadi”

“a..apa maksudmu?” tanyaku berusaha meyakinkan pendengaranku.

“aku tidak memintamu menjelaskan seperti tadi” jelas Dongwan sekali lagi.

“a… aku, aku hanya…”

Ah, sial! Bagaimana aku menjelaskan semua ini? Apakah mungkin aku harus nekat bertanya kepadanya. Apa kau cemburu?

“wah.. Orion!” pekiknya ketika ia mendongakkan kepalanya melihat taburan bintang di langit, reflek membuatku ikut mendongak. Aku tahu ia hanya mengalihkan perhatian saja.

“kudengar, jika ada sepasang kekasih yang menyaksikan bintang Orion bersama-sama dalam 3 malam berturut-turut maka cinta mereka tidak akan terpisahkan” ujar Dongwan

“oh ya? Kau mendengarnya dari mana?”

“dari sebuah drama Jepang”

Aku tersenyum..

“kenapa tersenyum? Memangnya tidak boleh kalau seorang pria suka melihat drama?” protesnya sedikit cemberut.

“Dongwan, bukan itu maksudku. yang kuherankan di zaman seperti ini masih saja ada orang yang percaya dengan mitos”

Dongwan menyipitkan matanya.

“hey! Kenapa kau memanggilku seperti itu. Sudah dua bulan selalu saja seperti ini”

“lho… namamu kan Kim Dongwan, memangnya harus kupanggil siapa?” aku tertawa pelan

“panggil aku oppa!” jawab Dongwan cepat

“kau menyuruhku memanggilmu oppa? Hahaha terdengar sangat menggelikan!” sungguh kali ini aku tidak bisa berhenti tertawa.

“kau ini!” seru Dongwan sambil menjitak kepalaku, aku hanya meringis kesakitan

“Sudah seharusnya kau memanggilku seperti itu. Aku kan lebih tua darimu! Bukankah semua wanita memanggil dengan oppa kepada lelaki yang lebih tua darinya?”

“kalau aku tidak mau?” tantangku. Namun nyaliku menciut ketika ia bersiap-siap kembali menjitak kepalaku dengan tangannya yang berotot itu.

“baik-baik, aku mengerti Kim Dongwan… oppa” ujarku pasrah. Ia tersenyum menang

Mendadak ponselku berdering…

“ya hallo…” alisku seketika langsung berkerut, mataku terasa panas.

 

Beberapa saat kemudian, aku sudah terjebak di sebuah ruangan serba putih. Kulihat Ayah sedang terbaring disana. Mataku yang sejak tadi panas sekarang sudah berair. Meski sekarang kondisinya mulai stabil, namun selang-selang yang membelit tubuh Ayah terlihat seperti menyedot energinya. Lihat, ia seperti bernafas dengan sisa-sisa tenaganya. Kata Dokter, Jantung Ayah kembali anfal. Rasanya begitu berat menerima semua ini.

Aku jatuh terduduk di samping ranjang Ayah, cepat-cepat kugapai tangannya yang kini mulai berkeriput. Dalam tangis kuingat bagaimana tangannya yang selalu hangat ini memberikan kekuatan padaku. Yang selalu membelai rambutku, yang selalu menepuk pundakku untuk memberikan semangat, yang selalu memelukku saat aku down. Ayah, kumohon bukalah matamu…

“Nisa…” ujar Ibu seraya membelai lembut rambutku. Aku hanya menatapnya takzim

“Kau sudah tahu kondisi ayahmu dan juga perusahaan keluarga kita kan?” tanyanya ketika aku menutup pintu. Kami memutuskan untuk berbicara di luar, membiarkan Ayah beristirahat.

Seketika ada sesuatu yang mencekat tenggorokanku. memang, sepanjang perjalanan ke rumah sakit Ibu telah menceritakan bagaimana masalah keuangan perusahaan yang membuat jantung Ayah kembali anfal. Tapi tidak biasanya Ibu berbicara dengan nada seperti ini. Sepertinya aku mencium sesuatu yang aneh.

“maukah Nisa menyelamatkan Ayah, perusahaan kita & nasib ratusan karyawan yang bekerja?”

Aku menggeser posisi dudukku, dan menatap wajah teduh Ibu.

“apa yang harus Nisa lakukan?”

“lusa, datanglah ke perjodohan dengan putra Ocean group ”

Bahuku seketika melorot. Ibu meraih tanganku dan mengusap punggung tanganku pelan.

“Ibu tahu ini sangat berat, kami tidak bermaksud menjualmu demi menyelamatkan usaha ayahmu. Sama sekali tidak. Tapi, cobalah berfikir sekali lagi. Bagaimana nasib ratusan karyawan ayahmu nantinya? Bagaimana mereka bisa menghidupi keluarga mereka? Ocean Group, Presdir mereka adalah sahabat baik Ayahmu. Seminggu yang lalu mereka sepakat menjodohkanmu dengan putra mereka.  Kata manajer Han, Ocean Group bersedia membantu kita dengan menginvestasikan dana mereka”

Dadaku mulai terasa sesak. Pandanganku juga mulai terlihat kabur, kabut di mataku terlalu tebal.

“baiklah, anggap saja Ibu menagih janjimu 2 bulan yang lalu. Saat kami ingin menjodohkanmu dengan Junjin. Ia pria yang baik, namun kami menghargai keputusanmu. Bukankah Nisa sudah berjanji kepada Ayah dan Ibu jika hingga akhir musim gugur belum juga menemukan pria yang tepat, maka Nisa akan bersedia kembali dijodohkan? Dengan siapapun itu?”

Perlahan, kabut dimataku mulai mencair dan turun membasahi pipiku. Aku tidak mampu mengatakan apapun hingga Ibu memelukku dengan kehangatannya.

 

ooOoo

 

 “kudengar, jika ada sepasang kekasih yang menyaksikan bintang Orion bersama-sama dalam 3 malam berturut-turut maka cinta mereka tidak akan terpisahkan”

Kata-kata itu kembali terngiang di telingaku.

“Rasi bintang Orion? Hhhh…………..” Kuhela nafas pelan. Kupandangi langit malam ini yang bersih tanpa sapuan awan dari atas balkon.”Apa iya akan seperti itu?” tanyaku pada diri sendiri.

Pletak

Kupingku mendengar seperti ada yang melempar sesuatu di dekatku. Heran deh, siapa juga malam-malam begini yang main lempar-lempar batu segala.

“Ssttt…”

Siapa sih?

Mataku terbelalak kaget ketika mendapati sesosok pria berjaket krem sedang melambai-lambaikan tangannya di depan gerbang rumah. Aku mengernyitkan mata mencoba memastikan siapa dia

“Nisa… ayo turun!” teriaknya

“Dongwan oppa…”

Tidak sampai 1 menit, aku sudah berada di gerbang rumah

“oppa, ini jam berapa? Malam-malam begini masih keluyuran?” tanyaku

“masih jam 10 malam” jawabnya dengan sumringah sembari melirik jam tangannya

“mau pergi denganku?” lanjut Dongwan

“kemana?”

“melihat Orion!” jawabya cepat sambil menunjukkan sebuah teleskop yang ia bawa

Kami sampai di sebuah tanah lapang di pinggiran sungai Han. Diujung sana bisa kulihat dengan jelas kerlap-kerlip lampu kendaraan yangsedang melintasi jembatan. Sementara itu Dongwan sedang sibuk mengutak-atik teleskop yang ternyata ia pinjam dari sahabatnya.

“Aaah, kenapa tidak berfungsi?” gerutunya

Aku hanya tersenyum kemudian kembali mengedarkan pandangan melihat gemerlapnya sudut kota Seoul di malam hari

“Shin Hyesung… awas kau ! kenapa meminjamkan barang rongsokan seperti ini?”

“Shin Hyesung?” tanyaku heran

“iya, Shin Hyesung yang penyanyi itu. Wartawan sepertimu pasti mengenalnya bukan? Uh.. dasar kepiting !” teriaknya seraya menendang kaki teleskop & membuatnya ambruk ke tanah

“hah? Kepiting?”  sekali lagi aku keheranan dibuatnya. Kurasa jika suasana sedikit terang akan terlihat kalau alis kananku terangkat keatas

“ah, sudah lupakan saja” jawabnya cepat

Sesaat kemudian ia duduk disampingku & merebahkan badannya diatas rerumputan.

“ini malam yang baik untuk melihat bintang bukan? Lihat banyak sekali bintang diatas sana”

“iya… waah, indahnya…” ucapku dengan terus mendongakkan kepala

“kalau kamu duduk dengan mendongakkan kepala seperti itu terus nanti bisa pegal. Rebahkan tubuhmu”

Tangannya meraih lenganku supaya aku ikut merebahkan badan di atas rerumputan. Sepertinya jantungku mulai bertingkah aneh lagi. Lututku terasa lemas, mungkin jika dalam keadaan berdiri aku pasti akan jatuh.

Cukup lama kami terdiam. Entah karena sibuk dengan pikiran kami masing-masing, sibuk menikmati indahnya bintang, atau karena tidak tahu harus membicarakan apa?

“kau tahu bagaimana asal-usul orion?” tanyanya tiba-tiba, aku hanya menggeleng

“Dalam mitologi yunani Scorpio digambarkan dalam kisah seorang pemburu besar bernama Orion. Dia berburu tengah malam bersama dewi pemburu, Artemis. Artemis pun jatuh cinta kepadanya. Saudara kembar laki-laki Artemis, Apollo meminta kepada ibunya, Hera untuk mengirimkan Scorpio untuk membunuh Orion. Hera mengabulkan permintaannya & Orion terbunuh”

Ia terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan penjelasannya

“Artemis bersumpah tidak akan mencintai orang lagi dan menangis meminta ayahnya Zeus, penguasa langit untuk meletakkan konstelasi di langit untuk kekasihnya, Orion. Dan begitu ia melakukannya, ia tidak hanya memberikan suatu konstelasi untuk Orion, tetapi untuk pembunuhnya Scorpio. Dengan cara itu Artemis bisa melihat cintanya. Karena itu, banyak pasangan kekasih yang percaya jika mereka menyaksikan orion bersama-sama dalam tiga hari berturut-turut, cinta mereka takkan terpisahkan”

Kutolehkan wajahku, sementara ia terus memandang ke langit “mungkinkah kita berjodoh oppa?” batinku

“Nisa, besok buku fotografiku akan di-launching. Acaranya di ballroom Hotel Hilton jam 2 siang. Kamu datang ya?” ucapnya sembari tersenyum hangat

“be… besok, aku akan dijodohkan” ucapku dengan suara bergetar.

Seketika senyumnya menghilang…

 

[Nisa POV End]

 

ooOoo

 

Kilatan blitz kamera mewarnai prosesi launching buku fotografi yang dikarang oleh Kim Dongwan. Puluhan rangkaian bunga ucapan selamat bejejer di sepanjang pintu masuk ballroom hotel. Tak mau kalah dengan para wartwan, ratusan pecinta fotografi juga ikut memadati ruangan. Reputasi Kim Dongwan sebagai fotografer papan atas di Paris rupanya telah menyedot banyak perhatian public. Apalagi semenjak foto dirinya terpampang di cover majalah fashion & style paling laku di Seoul, d’style. Bahkan beberapa media mengatakan popularitasnya setara dengan artis KPop. Terdengar sedikit berlebihan memang, namun melihat skill & prestasi segudangnya rasanya sah-sah saja.

Kim Dongwan menyapu seluruh ruangan dengan matanya. Mencari sosok yang sejak tadi ia nanti, namun sepertinya belum datang. Beberapa sahabat & rekan kerja terlihat datang & memberikan selamat. Bahkan terlihat penyanyi kenamaan Korea muncul disana, Shin Hyesung.

“Hey! Dongwan, selamat ya? Atas launching bukumu” ucap Hyesung sembari menepuk pundak sahabatnya.

“terima kasih kawan, kukira kau tidak datang. Aku yakin kau sangat sibuk akhir-akhir ini”

“tentu saja aku sibuk, tapi bagaimanapun juga kehadiranku disini sangat dibutuhkan bukan?” jawab Hyesung sedikit narsis kemudia mereka tertawa bersama. Terlihat begitu hangat & bersahabat.

“Hyung!”

“Hey Andy! Kau juga datang?” seru Dongwan sumringah

“tentu saja. Hyung… aku mau tanya sesuatu” Tanya Andy dengan menyikut lengan Dongwan, yang ditanya hanya mengisyaratkan kata “apa” dengan mengangkat kedua alisnya.

“gadis ini siapa? Lihat semua contoh teknik fotografimu menggunakan model yang sama” ujar Andy, melihat Andy menunjukkan foto yang ada di tiap lembar buku membuat Hyesung penasaran dan buru-buru dibukanya buku fotografi yang ia bawa.

“ha! Iya, tapi ini semua pose natural. Kesannya seperti dipotret diam-diam. Coba lihat ini, aku paling suka yang ini. Gadis ini duduk sendirian di meja sebuah café, rambutnya dikuncir asal-asalan terlihat sedang mengerjakan sesuatu. Lihat ada laptop di depannya. Ck ck ck tidak biasanya kawan kita seperti ini, iya kan Andy?” komentar Hyesung panjang lebar dibarengi anggukan Andy berkali-kali.

“ayolah hyung, dia siapa? Aku tidak akan bertanya seperti ini seandainya ada objek lain disini. Tapi ini pengecualian, semua foto yang ada di buku ini memiliki objek yang sama namun dengan pose & background  tempat yang berbeda” desak Andy. Kim Dongwan hanya tersenyum penuh arti.

“dan coba lihat, di halaman terakhir… ya ampun! Kau melamarnya?” Tanya Hyesung setengah tidak percaya.

“dia Nisa Kim, wartawanku di majalah d’style” seru Eric yang tiba-tiba datang bersama Lee Minwoo.

 

ooOoo

 

[Nisa POV]

 

Kuraba cover buku fotografi yang Dongwan oppa kirimkan tadi pagi melalui seorang kurir. Mungkin karena ia tahu aku tidak bisa datang. Kubuka pelan lembar demi lembar. Semakin kebelakang rasa-rasanya dadaku semakin bergemuruh hebat. Bagaimana bisa seperti ini? Foto-foto ini…

Kudongakkan kepalaku, memaksa cairan bening kembali masuk ke mataku untuk mencegahnya tumpah. Kulihat di sekelilingku, semua pohon kini telah meranggas. Daun-daun berwarna kuning keemasan menutupi tanah. Sebagian yang lain duduk manis di tempat duduk kayu yang ada di taman. Kupungut salah satu diantara mereka. Mendadak aku teringat dengan pertemuan pertamaku dengan Dongwan oppa. Aku tersenyum, mengapa terkenang begitu manis?

Kulanjutkan kembali membuka tiap halamannya. Lagi-lagi dadaku bergemuruh hebat. Puncaknya di halaman terakhir, sebuah puisi bertuliskan tinta emas.

 

Cinta tak akan beku dikala cuaca dingin

Tak akan mencair di kala cuaca panas

Tak akan luluh di kala hujan turun

Tak akan rontok meski musim gugur

Namun, akan tetap mekar walau bukan musim semi

Ia mampu menyembuhkan luka

Mampu melegakan dahaga

Menghapus air mata

 

Aku tersentak kaget ketika mendadak ponselku berbunyi

“ya hallo, ibu…. Ya, ya aku mengerti… aku akan segera kesana…”

Kuhela nafas panjang. Kuharap ini sedikit membantu mengurangi rasa sesak di dada. Ibuku tadi menelpon supaya aku cepat datang ke acara perjodohan. Kali ini aku tidak bisa menolak & tidak boleh menolak seperti yang pernah kulakukan sebelumnya. Kondisi Ayah sedikit banyak memaksaku melakukan ini semua. Lagi pula menurut prakiraan cuaca, ini adalah minggu terakhir musim gugur. Itu artinya, toleransi waktu yang diberikan ibuku sudah habis. Jika sampai akhir musim gugur belum kutemukan pria yang kucintai maka aku tidak boleh menolak ketika dijodohkan, dengan siapapun itu.

Seandainya saja Kim Dongwan “berani” memulai lebih awal. Kugenggam erat buku fotografi pemberiannya. Mungkinkah ada sedikit keajaiban untukku?

Kulangkahkan kakiku dengan malas. Ingin rasanya berlari dari semua ini. Kalau perlu ke ujung dunia sekalian hingga tak ada satu orang pun yang mampu menemukanku. Tapi bagaimana bisa? Aku sudah terlanjur menyanggupi untuk datang di acara perjodohan. Sungguh aku tak mampu menegakkan kepalaku sebab kenyataan begitu berat.

“Ah… Nisa  lama sekali, ayo duduk sini” sambut Ibuku

“Annyeong, cheo neun Nisa Kim imnida…” sapaku dengan lemah. Masih dengan kepala tertunduk, aku duduk di kursi samping Ayah & Ibuku

 

ooOoo

 

kupandangi langit yang tampak begitu gelap tanpa bintang satupun. Meski demikian, rasanya aku bisa memandangi langit bagaikan ditaburi ribuan bintang dan bulan purnama yang indah. Seindah hatiku sekarang bukan? Ingin rasanya melompat-lompat layaknya anak kecil yang mendapatkan hadiah. Bedanya jika anak kecil mendapat hadiah permen atau cokelat, sedangkan aku mendapat hadiah yang tak ternilai harganya. Seorang pria yang berada di hatiku sekarang. Seseorang yang kini aku berani mencintainya dan tanpa diam-diam lagi kurindukan kehadirannya.

“Nisa” ucap pria disampingku

“Hm…..”Aku menoleh padanya dengan memajang senyum termanisku.

“Nisa…”

“ya…..?” jawabku lembut. Semenit… dua menit….alisku mulai berkerut ia mau bicara apa? Kenapa diam saja?

“Nisaaa…”

“yaaa…???”

“Nisaaaaaaaa……”

“yaaaaaaaa…..????????” orang ini mau bicara apa sih! Dari tadi cuma manggil nama aja?

Mendadak pipiku tersentak ke kiri. Aku langsung membeku, diam, bengong, dan tidak bisa berkata-kata atau apalah istilahnya. ia mencium pipiku !!!

“aaaaaa….!!! Dongwan oppa curang! Mencuri start. Kita kan belum menikah???” teriakku cemberut. Ia hanya terkekeh melihat kelakuanku.

Menikah? ya benar. Tidak percaya bukan? Aku sendiri merasa ini bagaikan mimpi. Ternyata pria yang dijodohkan dengan orang tuaku tadi siang adalah Kim Dongwan. Ya… Kim Dongwan yang fotografer itu… yang buku fotografinya didominasi foto diriku.

“Oppa… terima kasih” ucapku tanpa mampu menyembunyikan rona bahagia di wajahku.

“untuk apa?” tanyanya cepat

“semuanya” jawabku pelan. Ia tersenyum lalu menggenggam erat tanganku tanpa mengatakan apapun. Sekarang langkah kami seirama, genggaman tangannya juga semakin erat dan bisa kurasakan hangatnya.

“ssshhhh……. Dingin! ” serunya ketika angin musim gugur di malam hari menerpa wajah-wajah kami. Dimasukkannya tangan kananku di saku jaket kirinya.

Aku tersenyum, betapa beruntungnya aku mendapatkan pria ini. Meski aku tidak mendengar kata-kata “aku mencintaimu ” keluar dari mulutnya. Namun aku percaya bahwa matanya, sikap hangatnya, genggaman tangannya, ia begitu tulus mencintaiku.

Aku percaya …

Dan selamanya akan percaya…

Kudongakkan kepalaku ke langit. Hembusan angin tadi ternyata berhasil menyapu awan gelap. Sekarang dapat kulihat jelas langit yang indah bertabur bintang berkerlap-kerlip diatas sana. Mataku terus mencari rasi bintang yang selama tiga hari ini begitu menarik perhatianku.

“mencari Orion?” tanyanya

“He’em”

Tangan kanannya berganti menggenggam tangan kananku sembari memelukku dari belakang. Ia membantuku menunjuk dimana Orion berada.

“Ia disana…” tunjuknya

“waah… malam mini Orion lebih terlihat terang dari pada malam-malam sebelumnya ya?”

“tentu saja, karena Orion melihat ada sepasang penduduk bumi yang cintanya tidak akan terpisahkan” jawab Dongwan oppa

Aku tersenyum…

 

[THE END]

 
9 Komentar

Ditulis oleh pada September 6, 2011 in Fan Fiction, Korea

 

Tag: , ,

9 responses to “[Fan Fiction] Romance in Autumn ~ part 3 final

  1. Yatiex

    September 6, 2011 at 4:04 pm

    Pertamax. . . . *loncat2*

     
  2. Yatiex

    September 6, 2011 at 4:19 pm

    Td dah baca recapnya, , kang woo t’tembk wkt upcr pnkahannya? Jd 18 episod y sist. . . “ben rodo elit ganti wit ringin nyok?”

     
  3. mycolorisland

    September 6, 2011 at 11:13 pm

    Dongwan: kenapa kalian menggosip Eric-HYS disini? *ngambek*

    sofie: maaf oppa, ini berita terupdate hahaha

    Dongwan: (_ _’) trus nasib kisahku gimana? Kan lebih bahagia dibanding Kangwoo-Myungwol. *ambil tali, cari pohon talok*

     
  4. ratnabewe

    September 8, 2011 at 9:12 am

    HAPPY ENDING~~ LOVE IT… TAPI KECEPETEN CINTANYA nISA kIM.. *KISAHNYA MAKSUDNYA* HEHEHEHEHE

     
  5. mycolorisland

    September 8, 2011 at 1:16 pm

    @ratna tengkies dear *hug*

    iya sih, setelah dipikir2 emang kecepetan dan kurang detail kisahnya. Waktu bikin jg pikiran susah konsen dan keburu-buru jg, ya hasilnya begini deh. Kurang memuaskan

    thanks saran+kritiknya😀

     
  6. f2na

    Desember 8, 2012 at 7:57 am

    uwaa..
    ceritanya unyu banget..
    nggak bisa berhenti senyum..

    keren.. ^^

     
  7. Milkyta

    Oktober 15, 2013 at 2:42 pm

    daebak !! cute romance~~

     
  8. aisyahyesung

    Februari 11, 2014 at 1:44 pm

    wah ternyata yang dijodohin sama dia dongwhan to

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: