RSS

[Fan Fiction] Don’t Love Anyone Else part 2

21 Sep

Author: Sofie Junnosuke & Ratnabewe

Genre: romance

Rate: 15+

Cast: Eric Mun (Shinhwa, actor), Shin Kihyun (ex-member Battle, actor), Yoon Eunhye (ex-member Baby VOX, actress), Kim Jong Kook (singer)

Suppoting cast: Kimjun (T-Max), Kim Minsoo (Monday Kiz), Han Seung Hee (Monday Kiz) Nakamaru Yuichi (KAT-TUN), Tony Ahn (H.O.T), Park Shi Hoo (actor)

Fictional cast: Ahn Yuri, Shin Ranbyul, Jung Eunah, Choi Hani, Han Hyanggi, Shim Eun Yoo, Jung Hyokyung, Song Haseok, Shin Jibin, Han Eunkyung, Song Jiyoo, Shin Hyejae

Backsound: Don’t Love Anyone Else ~ Shin Hye Sung

Disclaimer: this story originally from Sofie & Ratna’s imagine, plagiat is not good for your health ^^.

::Previous story::


Please Give One More Chance  [ klik disini ]

2nd Chance  [ klik disini ]

Old Feeling  [ klik disini ]

Don’t Love Anyone Else part 1  [ klik disini ]

[part 1]

……..

hm… bisakah kita bertemu lagi?” Tanya Yuri tiba-tiba. Tapi mendadak ia merasa bodoh, untuk apa ia menanyakan hal itu?. Ingin rasanya menelan kembali perkataan yang barusan keluar dari mulutnya.

tentu saja” jawab Kihyun singkat, ia tersenyum kemudian pergi.

Entah mengapa jawaban Kihyun tadi mampu menerbitkan kembali senyum Yuri yang hilang. Senyumnya semakin melebar ketika ia membuka kartu ucapan berhias pita yang tertancap dalam pot mini itu.

bukannya ucapan semoga cepat sembuh, ini malah alamat flower shop-nya. Hahaha Dasar !”

Nada tawa Yuri terdengar renyah, sepertinya beban hidupnya mulai berkurang sekarang. Tanpa ia sadari, di luar pintu berdiri seorang pria tegap yang terlihat merenggangkan genggaman tangannya pada handle pintu dan memutuskan mengurungkan niat untuk menjenguk Yuri…

……..

[part2]

Dokter! Tolong selamatkan dia!” teriak seorang wanita bergaun pengantin dengan beruraian air mata. Dengan tergopoh-gopoh rombongan dokter & perawat mencoba menyelamatkan nyawa seorang pria berpakaian tuxedo berwarna putih itu. Darah segar yang keluar dari keningnya sangat banyak membuat selimut rumah sakit berwarna merah darah. Bau anyir bertebaran di sepanjang lorong rumah sakit.. Sepertinya pria & wanita baru saja selesai melakukan prosesi pernikahan, namun sebuah insiden kecelakaan menimpa mereka. Sebelum sampai ruang ICU, pria itu mulai sadar. Mata sendunya menatap sang mempelai wanita.

Hyanggi…”

Oppa, aku disini. Jangan banyak bicara dulu. Kumohon…”

Hyanggi, maafkan aku jika aku pergi dalam keadaan seperti ini. Hyanggi, aku mencintaimu…” sekejap kemudian matanya telah tertutup untuk selamanya.

Oppa! Minsoo Oppa! Jangan tinggalkan aku!” teriak Hyanggi, sang wanita itu terguncang, beberapa perawat & keluarganya berusaha menenangkannya namun Hyanggi semakin histeris.

Kau tidak boleh pergi Minsoo oppa! Kumohon bukalah matamu oppa…” teriak Hyanggi sembari mengguncang-guncangkan & memeluk tubuh Minsoo yang tak lagi bernyawa

Yuri hanya terpaku melihat pemandangan dihadapannya tanpa bergeming. Tatapan matanya terlihat datar. Seperti itukah rasanya jika kehilangan seseorang yang kita cintai? Akan sesakit itukah? Seandainya ia meninggal kemarin akankah Eric melakukan hal yang sama dengan wanita bernama Hyanggi itu? Mengguncang-guncang tubuhnya dan meminta Yuri untuk tidak meninggalkannya?

Lamunannya tersadar ketika sebuah tangan menyentuh bahunya.

Yuri, seluruh administrasi rumah sakit telah selesai. Ayo pulang…”

Eric, jika aku meninggal apakah kau akan sangat kehilangan seperti wanita disana?” tanyaku seraya menunjuk kearah Hyanggi yang masih histeris ditinggal suami yang beberapa jam yang lalu ia nikahi. Eric tak menjawab, hanya tatapan matanya menunjukkan ekspresi kaget dan berusaha menghilangkan bayangan itu.

Sesampainya di apartemen, Yuri langsung menuju tempat tidur. Kondisinya memang belum fit sepenuhnya membuat tubuhnya masih sedikit lemas.

Eric, aku lelah. Pergilah, aku ingin tidur” ucap Yuri dengan malas, kemudian ia menarik selimutnya hingga menutupi wajah namun ditahan oleh tangan Eric. Kontan saja ini membuat Yuri sedikit jengkel, kemudian ia bangun.

Yuri, mengapa kamu menjadi seperti ini?” Tanya Eric begitu pelan

karena…” ucapan Yuri terhenti. Ia merasa ada sesuatu yang mencekat di tenggorokannya. “aku tak lagi mampu bertahan, aku lelah, dan aku ingin menyerah” tanpa sadar ujung matanya mulai basah.

ini bukan kau. Yuri yang kukenal tidak seperti ini”

kenyataannya memang seperti ini. kau tidak tahu bagaimana hancurnya diriku? Demi dirimu sudah berapa hati yang aku tepikan? Tapi kenyataannya selalu saja ada masalah yang menghalangi hubungan kita. Eric, aku sudah lelah dengan semua ini” ujar Yuri dengan pandangan kosong. Eric hanya terdiam

aku sudah tidak mampu lagi bertahan, berulang kali aku terjatuh dan bangkit dengan kekuatanku sendiri namun kau selalu menjatuhkannya lagi ke dalam lubang yang lebih dalam, aku sungguh ingin menyerah dari sisimu. Eric, bisakah kau lepaskan aku?”

Mata Eric mulai terasa panas sekarang. Apa yang dikatakan Yuri barusan? Melepaskan?

apa maksudmu?” Tanya Eric dengan suara bergetar

Lepaskan aku. Aku sudah hancur sekarang. Bukan lagi berkeping-keping, melainkah sudah hancur seperti debu yang diterpa angin dan hilang. Aku mohon…” pinta Yuri dengan menangis

Dengan cepat Eric membenamkan wajah Yuri dalam pelukannya.

Tolong, jangan katakan hal mengerikan itu lagi. Aku sudah pernah kehilangan dirimu, sekarang aku tidak mau kehilangan dirimu lagi”

Eric melepaskan pelukannya kemudian menghapus air mata di pipi Yuri

jika kau lelah, akulah tempatmu bersandar. Jika kau tak mampu bertahan, akulah yang akan menopangmu. Jika kau terjatuh, akulah yang akan pertama kali mengulurkan tangan padamu. Dan jika kau menangis, akulah yang akan menghapus air matamu. Tidakkah itu cukup bagimu untuk bertahan?”

Yuri hanya terdiam, pandangan semakin kabur karena banyaknya air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

karena cukup bagiku hanya memiliki cintamu”

Sekarang air mata mulai membanjiri pipi Yuri…

ooOoo

Keesokan harinya, matahari musim panas sedang bersinar cukup terik. Namun, semilir anginnya mampu memberkan sedikit kesejukan. Yuri berdiri di depan sebuah flower shop dengan menggenggam secarik kartu nama. Shin Florist.

Hyanggi, kau yakin akan pergi sendiri?” Tanya seorang pria tepat di depan pintu.

tidak apa-apa oppa, kau tidak perlu khawatir. Aku pergi dulu, Minsoo oppa menungguku” jawab gadis bergaun putih itu sembari menyunggingkan senyum tipis dibalik wajah sembabnya. Ia kemudian pergi meninggalkan flower shop dengan sebucket besar bunga Aster putih.

Yuri hanya terpaku di tempatnya berdiri. Gadis itu…

Yuri! kenapa hanya berdiri saja disitu? Masuklah” sambut Kihyun yang rupanya sadar akan kedatangan Yuri.

Yuri mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan flower shop. Ruangannya begitu rapi, ditambah dengan beraneka ragam bunga potong hingga bunga hidup dalam pot-pot mini menambah semarak ruangan yang nampak tidak terlalu luas itu. Pada bagian dindingnya terpajang beberapa foto Kihyun bersama 5 teman laki-lakinya, terlihat ceria & bersahabat. Beberapa diantaranya juga terdapat foto Kihyun menerima piala kompetisi mengarang bunga, dan satu lagi foto yang membuat Yuri mengamatinya agak lama. Sebuah foto berbingkai perak, terdapat sosok pria mengenakan kaos berdiri di tengah sekelompok pria berseragam tim sepak bola. Mereka tertawa lepas sambil menerima plakat hadiah, sepertinya mereka memenangkan pertandingan sepak bola. Disamping foto itu juga terdapat foto Kihyun melakukan selebrasi setelah membobol gawang lawan, foto tersebut telah dibingkai senada dengan foto disampingnya.

ayo tebak, Shin Ki Hyun yang mana?

jadi selain seorang florist, kamu juga pemain sepak bola ???”

Kihyun mengangguk dalam “Karena aku menyukai keduanya” jawabnya simpel.

tak kusangka ternyata kau orang yang hebat Kihyun-ssi” puji Yuri dengan mengacungkan dua jempol tangannya.

jangan memanggilku terlalu formal seperti itu, sepertinya kita seumuran. Kau lahir di bulan apa?”

November. Kau?”

Whooah, kalau begitu kau harus memanggilku oppa. Aku kan lebih tua darimu, aku lahir di bulan Juni” ujar Kihyun senang

Yuri memicingkan matanya, “oppa? Aku tidak pernah memanggil pria lain dengan sebutan oppa kecuali dengan kakak kandungku sendiri” ujar Yuri beralasan. Ia kemudian berjalan mengelilingi tiap sudut flower shop untuk mengamati berbagai macam bunga yang indah itu.

Aish! kau ini, cobalah menghormati orang lain yang lebih tua. Panggilan oppa, unnie, noona, hyung itu untuk menghormati mereka. Apa salahnya?”

ya ya.. aku mengerti oppa yang cerewet!” seru Yuri sembari memalingkan tubuhnya.

Namun malang, kaki kanannya tersangkut selang air yang belum sempat Kihyun bereskan. Tubuhnya seketika kehilangan keseimbangan sehingga menubruk Kihyun.

Aaaaa!”

Beruntung Kihyun mampu menahannya. Jika tidak, mungkin mereka akan terjatuh.

DEG DEG DEG…

Wajah mereka hanya terpisah udara yang hanya beberapa centi saja sekarang, membuat jantung Kihyun berdetak tak karuan. Nafas Yuri terhenti beberapa detik dan wajahnya terasa panas. Merasa kikuk, reflek Kihyun & Yuri melepaskan “pelukan tidak sengaja” itu bersama-sama.

ma, maaf..” ucap Kihyun pelan

gwenchana”

Tanpa mereka sadari, diluar sesosok pria berjas hitam dengan tatapan nanar meninggalkan flower shop…

ooOoo

Kertas – kertas itu masih berserakan tidak teratur di meja. Namun, Eric hanya memandang kertas – kertas itu tanpa menyentuhnya sama sekali. Kepalanya tetap memikirkan kejadian satu jam lalu di flower shop. Kepalanya semakin terasa pening ketika teringat perkataan Yuri tempo hari. Ia tidak mungkin melepaskan wanita yang sudah menghuni hatinya bertahun tahun. Wanita yang dulu pernah dikecewakannya dan sempat dikejarnya hingga ke Jepang. Tidak semudah itu melepaskan Yuri.

Lamunannya terpecah saat ponselnya berdering.

Yoboseyo..”

Yoboseyo, oppa. Bisakah kita bertemu sekarang? Aku ingin bicara sesuatu padamu, kutunggu di butik milik Ahn Yuri-ssi sekarang. Aku akan menunggumu sampai kau datang.”

Setelah menutup sambungan itu, Eric hanya diam terpaku. Ia memikirkan apa yang hendak Eun Hye katakan padanya. Dan kenapa harus di butik milik Yuri. Dengan segera diraihnya kunci mobil, handphone, serta jasnya lalu segera berlari menuju mobilnya.

Sepanjang perjalanan, sempat terlintas dalam pikiran Eric bahwa Eun Hye akan berbicara pada Yuri bahwa mereka tak ada hubungan apapun, namun akal sehatnya yang lain membuatnya berpikir bahwa Eun Hye meminta Yuri untuk meninggalkan Eric karena Eun Hye masih mencintai dirinya. Hal ini cukup membuat kepalanya berdenyut-denyut.

Sesampainya di butik, dia melihat Eun Hye duduk seorang diri sambil menyeruput sesuatu dari cangkir ditangannya.

Apa yang ingin kau katakan?” suara Eric penuh kekhawatiran, Eun Hye menatapnya dengan tatapan sendu.

Mianhae oppa, jeongmal mianhae. Aku telah berbuat kesalahan. Mungkin memang masih ada cinta dihatiku untukmu tapi Jong Kook oppa ternyata lebih berarti untukku. Dia yang dengan sabar mengobati lukaku setelah perpisahan denganmu, dia juga yang selalu jadi peganganku saat ku terpeleset ataupun terjatuh dalam hidup ini. dan hanya dia yang bisa menerima semua yang ada pada diriku dengan senyuman.” Eric hanya memandang teduh pada Eun Hye. Semua pikiran buruknya sirna dan menimbulkan secercah cahaya dalam hatinya.

setelah kejadian di kantormu kemarin, Jong Kook oppa memberiku pilihan untuk terus berada disisinya atau merebutmu dari sisi Yuri. Dia bahkan tidak sedikitpun menunjukkan kemarahannya padaku meski aku tahu dia sangat marah karena peristiwa itu. Kebaikannya yang selalu dia hadirkan padaku yang masih bertindak kekanak-kanakan ini membuatku tidak bisa melepasnya. Aku memutuskan untuk kembali padanya dan kami sudah menentukan tanggal pernikahan kami.”

Baguslah kalau begitu, aku sempat merasa tidak nyaman dengan Jong Kook hyung karena hal ini. aku harap kau tidak menyakitinya lagi.”

Tapi..sebelum aku benar – benar melepaskanmu dan tidak lagi merepotkanmu, maukah kau mengabulkan satu permintaanku??” Eric mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Eun Hye yang kembali bernada manja dengan tatapan kekanak – kanakannya.

Seharusnya, hari ini aku bertemu denganmu disini bersama Jong Kook oppa dan menjelaskan semuanya namun sepertinya dia telat datang. Bisakah kau menemaniku sebentar disini sambil menunggunya datang?? Lagipula aku sudah berbicara pada Hani-ssi tentang gaun pengantin yang kuinginkan.”

Hani dan Ranbyul yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua akhirnya ikut bergabung dengan Eric dan Eun Hye yang sudah memancarkan suasana bersahabat. Bercanda bersama sembari memperhatikan desain gaun pengantin lainnya.

Oiya oppa, aku membeli beberapa hadiah buat Hani-ssi dan Ranbyul-ssi selain itu aku juga punya beberapa hal yang ingin aku berikan pada Yuri-ssi tapi masih ada dalam mobil. Bisa aku bantu aku mengambilnya? Aku rasa, aku tak bisa membawanya seorang diri.” Bisikan dari Eun Hye itu dijawab oleh anggukan serta senyuman dari Eric. Mereka berdua segera menuju mobil yang terparkir diluar butik. Senyum menghiasi wajah mereka, namun tanpa mereka sadari ada seorang paparazzi yang sedari tadi mengamati mobil Eun Hye dari kejauhan. Eun Hye yang seorang model & artis terkenal tiba-tiba muncul di butik yang sedang mempromosikan gaun pengantin. Ditambah ia datang bersama seorang pria, tentu saja paparazzi itu tidak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan kebersamaan mereka.

ooOoo

Sepasang mata telah basah melihat foto yang terpampang jelas dilayarnya laptopnya. foto yang telah menjadi puncak dalam mesin pencarian online selang 2 jam setelah diposting. ‘Yoon Eun Hye hunting gaun pengantin’ begitu headline hot news yang beredar disertai beberapa poto yang menunjukkan seorang pria sedang tersenyum senang mengambil hadiah dari dalam mobil bersama Yoon Eun Hye, mobil yang terparkir di halaman sebuah butik.

Yuri mendongakkan kepalanya, memaksa air mata yang nyaris jatuh kembali masuk ke matanya. Ada sesuatu yang tiba-tiba menyeruak di rongga dadanya. terasa begitu sesak dan sakit

Baru saja aku hendak bangkit, tapi sekali lagi kau menghancurkannya. Itukah hobimu untuk selalu menghancurkan sesuatu yang hendak kuperbaiki?” tanya Yuri kembali menatap nanar pada layar laptopnya.

Mengapa Eric? Mengapa kau lakukan ini padaku? Apa yang harus kulakukan sekarang? Jika terus-menerus seperti ini, jujur aku tak sanggup lagi. Aku menepikan banyak hati untukmu, tapi kenapa kau tak bisa menepikan sebuah hati saja untukku Eric. Mengapa kau lakukan ini padaku…. Mengapa???” Yuri terus meracau dalam kesadarannya.

Berapa banyak airmata yang harus kuberikan padamu agar kau mau berubah Eric? Hatiku selalu mencintaimu tapi mungkin ini akan segera berakhir tanpa cara yang baik. Orang yang paling aku cintai tak akan pernah kembali, dan hanya pada orang itu aku menjadi gila karena cinta. Aku mencintaimu Eric, sangat mencintaimu.. tapi aku tidak bisa menjadi cintamu dan aku juga tidak bisa melupakanmu karena cinta ini sudah terlalu lama berakar di hatiku. Aku sangat ingin lepas dari baying-bayang cintamu.. hanya ada satu cara agar aku bisa lepas dari bayang-bayangmu Eric, hanya satu….”suaranya yang sudah hilang itu semakin terhapus dan terganti oleh suara tangisnya yang semakin keras. Yuri tidak bisa berpikir dengan jernih akan apa yang baru saja terjadi. Dia berjalan lemah meninggalkan kopi yang baru saja akan dicicipinya tanpa mengunci pintu apartemennya. Dia berjalan lemah dan gontai.

Semilir angin membuat rambut yang hanya digerai itu bergerak-gerak, sehingga terlihat kusut tak beraturan. Ponsel di tangannya berdering berkali-kali dengan display nama yang sama namun sama sekali tidak dihiraukannya. Tangannya yang begitu erat menggenggam ponsel seperti telihat menahan emosi yang sebentar lagi meledak. Ujung matanya sudah terlihat basah, namun pandangan matanya terlihat kosong.

Ponselnya berdering sekali lagi, ditekannya tombol OK kemudian diletakkan ponsel itu begitu saja di lantai.

Hallo, Yuri…! hallo, jawab aku. kau dimana?” terdengar sayup-sayup suara pria yang terdengar cemas di balik ponsel.

Angin di atap gedung apartemen semakin kencang berhembus. Tanpa menghiraukan suara tersebut, Yuri melangkahkan kakinya ke pembatas gedung.

Jika loncat dari sini, pasti mati kan?” tanyanya pada diri sendiri dengan nada begitu datar.

Ditempat lain, Eric kebingungan karena mendapati Yuri tidak berada di apartemennya. Yang membuatnya cemas adalah pintu apartemen tidak dikunci dan secangkir kopi yang masih hangat. Eric tahu betul, Yuri tidak menyukai kopi. Tapi mengapa kini ia minum sesuatu yang tidak disukainya? Telepon berkali-kali tidak diangkat, sekali diangkat tidak ada jawaban. Yang ia dengar hanya suara ribut seperti hembusan angin. Gossip mengenai dirinya & Yoon Eunhye yang mengunjungi butik untuk membeli gaun pernikahan cepat sekali beredar di internet. Padahal ia hanya menemani Eunhye karena Kim Jong Kook datang terlambat dan membantu mengambil barang-barang yang beberapa juga akan diberikan pada wanita yang sedang dicemaskannya kini. Ia tidak ingin kesalahpahaman ini semakin memperburuk hubungannya yang kini sudah buruk.

Wajah Eric semakin terlihat cemas. Entah karena dorongan apa,ia berlari menuju ke atap gedung apartemen. Betapa kagetnya ia ketika melihat Yuri sudah berdiri di atas pembatas gedung bahkan salah satu kakinya sudah berada di atas angin.

Yuri !!! jangan !!!”

BRUKK

Dengan cepat Eric menarik Yuri dari pembatas gedung hingga membuat mereka terjatuh.

Yuri, apa yang kau lakukan??? ” Tanya Eric setengah berteriak saking cemasnya.

Dengan mata berkaca-kaca Yuri menatap Eric, “Mengapa kau menyelamatkanku? Bukankah akan lebih baik jika seperti ini? Bukankah lebih baik jika aku mati, jadi Eunhye unnie bisa —-”

Belum selesai Yuri meneruskan kata-katanya, Eric sudah membenamkan wajah Yuri ke dadanya. “Tidak. Kau salah! Akan lebih baik jika semua kembali pada tempatnya” bantah Eric seraya semakin mempererat pelukannya. “akan lebih baik jika kita terus bersama. Bertahanlah, kumohon bertahanlah sekali lagi untukku. Aku berjanji, aku akan membuatmu bertahan melewati semua ini”

ingin rasanya aku bertahan, tapi sungguh kali ini aku sudah tak mampu lagi” ucap Yuri dengan kepala tertunduk seraya melepaskan pelukan Eric.

Dilepaskannya cincin platina yang melingkar di jari manisnya kemudian ia letakkan di genggaman tangan Eric. Sementara Eric tak mampu berkata apa-apa melihat apa yang dilakukan Yuri. Ia merasa ada sesuatu yang mencekat tenggorokannya.

Kumohon, lepaskan aku Mun Junghyuk-ssi…” ucap Yuri terdengar lirih namun dengan penekanan nada di akhir kalimat, kemudian ditinggalkannya Eric yang begitu shock mendengar ucapan Yuri barusan. Tak biasanya Yuri memanggil Eric dengan nama Koreanya. Ia sering dipanggil dengan Eric, bahkan tanpa embel-embel “oppa” walau kenyataanya Yuri lebih muda 8 tahun darinya. Suatu ketika Eric pernah menanyakan hal itu, tapi dengan tersenyum Yuri menjawab bahwa ia tidak suka memanggilnya dengan “oppa” karena memberikan kesan wanita yang manja dan tidak mandiri.

Eric hanya mampu melihat Yuri pergi meninggalkannya. Hembusan angin sudah tak terasa sekarang, mungkin mereka sedang menghargai perasaan Eric yang kini hancur.

Apa karena pria bernama Shin Kihyun itu?” Tanya Eric pelan, namun membuat langkah Yuri seketika terhenti.

Apa? Apa yang harus kulakukan supaya dirimu mampu bertahan?” Tanya Eric dengan suara parau. Yuri mendengarnya tanpa menoleh sedikitpun lalu kembali melangkahkan kakinya pergi dari atap gedung.

ooOoo

Kihyun oppa…” gumam Yuri ketika melihat pria itu sudah berada di ambang pintu apartemennya.

Kihyun sedikit heran dengan wajah Yuri yang terlihat kusut & kacau, namun ia lebih memilih tidak menanyakan hal itu. Ia tersenyum, sepertinya ia datang diwaktu yang tepat. Kihyun merasa Yuri saat ini sedang membutuhkan seseorang untuk menghiburnya.

ini, untukmu” ujarnya seraya menyerahkan sebuah kaktus mini. Bunganya berwarna merah. Terlihat indah sekali. Yuri menerimanya, seketika sebuah senyuman kembali menghiasi bibirnya.

kau masih ingat dengan kaktus yang kau lihat di flower shop-ku tadi?”

Yuri mengangguk dalam “tentu saja, ini cantik sekali”

kau tahu bagaimana caranya supaya tanaman cepat berbunga?” Tanya Kihyun tiba-tiba. Yuri hanya menggeleng

kau tidak perlu menyiramnya selama beberapa hari. Namun, setelah ia berbunga harus rajin disiram. Tanaman itu seperti manusia. Supaya manusia menjadi lebih baik kita memerlukan masalah yang harus kita hadapi” Kihyun menghela nafas sejenak kemudian ia melanjutkan perkataannya. “seberat apapun masalah, ia tidak akan membuatmu hancur. Justru mereka datang untuk membuatmu semakin kuat. Jadi bertahanlah, seperti kaktus ini”

Yuri sedikit terhenyak dengan perkataan Kihyun barusan. Bertahan? Yuri tersenyum getir. Apa mungkin ia mampu melakukannya kali ini saja?. Ia kembali teringat foto-foto itu dan kejadian memuakkan di koridor kantor d’style. Eric? Mengapa lagi-lagi harus dia?

aku yakin kau bisa melakukannya Yuri” ujar Kihyun member semangat

Yuri kembali tersenyum, kali ini terlihat lebih lepas. Namun, sedetik kemudian ia terkikik geli melihat Kihyun yang sok berlagak keren. Kedua tangannya dimasukan di kantong celana jeans skinny berwarna putih tak lupa sebuah hoodie dengan aksen bulu-bulu menutupi kepalanya

hei! kau ini kenapa?” Tanya Kihyun polos.

Tawa Yuri semakin keras membuat Kihyun bertingkah tidak karuan. Apa ada yang salah dengan dirinya?.

lihat, kau ini sok berlagak keren atau seperti apa hah? Apa kau tidak pernah mengukur tinggi badanmu?” Tanya Yuri menahan tawa. “Tubuhmu itu sangat tinggi dan kurus, untuk apa pakai skinny jeans? Putih lagi, jadi kelihatan aneh. harusnya orang sepertimu cukup pakai celana jeans pipe line supaya tidak terlihat terlalu kurus. Lalu untuk apa hoodie bulu-bulu itu? Kau lupa ini musim panas?”

Kihyun langsung merengut mendengar komentar tentang style fashionnya hari ini. Ia sendiri baru teringat jika wanita dihadapannya ini adalah pakar fashion & pemilik butik terkenal di Seoul. Mati sudah jika seperti ini. Yang paling disesalinya justru hoodie bulu-bulunya itu.

ta, tapi sebenarnya aku memakai hoodie salah musim ini ada maksudnya” ujar Kihyun mempertahankan diri dari serangan kritik fashion Yuri selanjutnya. Yuri mengangkat alisnya tinggi-tinggi sebagai isyarat kata “apa?”

Kihyun membuka hoodie-nya.

bagaimana?”

whoa… kau memotong rambut? Kemana rambut cokelat terangmu itu?” canda Yuri melihat model rambut baru Kihyun sambil berjinjit tinggi-tinggi untuk memastikan rambut Kihyun itu asli atau palsu. Siang tadi, ia masih melihat Kihyun dengan rambut panjang berwarna cokelat terang hingga menutupi kuping. Kini ia muncul dengan haircut pendek berwarna hitam kelam. Terlihat lebih fresh & tampan ^^

Kihyun waktu rambutnya masih panjang^^

Kihyun dengan rambut barunya ^^

dasar! Kau ini. Aku kan minta pendapatmu, bukan malah sindiran seperti itu” protes Kihyun yang lagi-lagi cemberut.

aish! Kau ini tidak bisa membedakan nada bercanda & serius ya? Ehm… coba kau lepaskan jaketmu”

Tanpa mendengar perintah selanjutnya, Kihyun melepas jaket ber-hoodie-nya meninggalkan sebuah kemeja berwarna hitam polos dengan dua kancing paling atas terbuka. Yuri memicingkan mata mengamati style Kihyun dari ujung rambut hingga ujung kaki.

oke” ujar Yuri sembari membentuk lingkaran dengan ibu jari & telunjuk tangan kanannya. “tapi ingat, skinny jeans seperti itu jangan dipakai lagi. Itu terlalu ketat, pakailah yang sedikit longgar, kecuali kalau kau sedikit gemuk nantinya”

ya ya, aku mengerti” jawab Kihyun pasrah. Ugh… lagi-lagi skinny jeans yang dibahas batin Shin Kihyun.

kau tidak mempersilakan aku masuk?” Tanya Kihyun tiba-tiba. Tersadar mereka masih di depan pintu. Yuri buru-buru minta maaf kemudian membuka pintu & mempersilakan Kihyun masuk. Namun, seketika lengan Kihyun tertahan sesuatu.

BUUK !

Tiba-tiba Kihyun sudah tersungkur di lantai. Sudut matanya melihat sepasang kaki yang memaksa Kihyun kembali berdiri dengan tarikan kasar kedua tangannya.

oh tidak! Eric jangan!” teriak Yuri berusaha melerai untuk mencegah Eric melakukan hal yang tidak-tidak kepada Kihyun. Namun kali ini kuping Eric seperti ditutup sesuatu yang tidak dapat ditembus sedikitpun suara.

jangan dekati yeoja-ku! Atau akan kubuat kau membayar semuanya!” teriak Eric tepat dimuka Kihyun.

Tangan Eric semakin erat mencengkeram kerah kemeja Kihyun tanpa sedikitpun diiringi perlawanan.

Apa seperti ini cara seorang pria sejati hah?” sindir Kihyun dengan nafas tersengal sengal

Eric geram mendengar perkataan Kihyun yang seolah meremehkannya. Tanpa menghitung detik, sebuah pukulan keras kembali mendarat di ujung bibir Kihyun dan membuatnya tersungkur ke lantai. Sungguh, Eric sama sekali tak kuasa menahan emosinya kali ini.

Eric! Apa yang kamu lakukan?” seru Yuri emosi, “Kihyun, kau tidak apa-apa?” Tanya Yuri cemas. Ia membantu Kihyun untuk duduk

Apa kau kira dengan menyuruh pria yang dekat dengan wanita yang kau cintai untuk menjauhinya akan membuat wanita itu kembali padamu?” Tanya Kihyun sinis sembari menyeka darah diujung bibirnya

Eric kembali menarik kerah Kihyun kemudian memukulnya sekali lagi.

Stop! Jangan lakukan itu lagi!” teriak Yuri frustasi

BUKK!

Tinju Eric mengenai bagian perut Kihyun. Namun, lagi-lagi tanpa ada perlawanan sedikitpun. Bukan karena Kihyun tak mampu melawan Eric. Bahkan tubuh Kihyun lebih tinggi, ia juga seorang atlet bola. Jika mau, ia bisa gunakan kakinya yang membuat gol di setiap pertandingan itu untuk menghabisi Eric.

kau kira ia akan kembali padamu?” nada sinis belum juga pergi dari ucapan Kihyun

Tidak! Sama sekali tidak! Cara seperti ini bukanlah cara pria sejati. Ini adalah cara yang diambil para pecundang!” lanjutnya dengan suara lantang

Terlihat tangan Eric semakin erat mengepal, tanda bahwa ia sedang menahan emosinya. Tatapan matanya juga masih penuh dengan amarah. Sementara lawannya, menanggapinya dengan begitu santai, tanpa sedikitpun tersulut emosi.

jika memang dia milikmu, buatlah ia kembali dengan hatimu. Sebuah kompetisi harus fair bukan?”

Eric tertegun mendengar perkataan Kihyun. Emosinya masih naik-turun, namun kepalan tangannya perlahan mulai merenggang.

kumohon hentikan semua ini…” isak Yuri yang mulai menangis, “kumohon, aku tidak ingin salah satu diantara kalian terluka” suaranya lama-lama terdengar melemah sebelum akhirnya ia terjatuh, pingsan.

Dengan sigap Kihyun mencegah kepala Yuri terbentur lantai.

Yuri!” pekik Eric khawatir

tidak. Biar aku saja” cegah Kihyun ketika Eric akan menggendong Yuri ke dalam, membuatnya hanya mampu terdiam dalam penyesalan.

ooOoo

Eric memandang gemerlapnya suasana malam hari kota Seoul dari balkon apartemennya. Kejadian-kejadian sepanjang hari ini kembali muncul di pikirannya bagaikan film documenter yang berkelebat cepat. Mulai dari kejadian di flower shop, kejadian di butik yang berujung pada gossip di internet, dan berakhir di apartemen Yuri.

Setelah insiden perkelahian tadi Yuri pingsan. Dokter Nakamaru, yang menangani Yuri mengatakan kondisi Yuri kembali drop “Eric-ssi, untuk sementara ini usahakan jangan ada yang membebani pikirannya, aku khawatir ini akan memperburuk kondisinya. Penderita tifus memang membutuhkan proses penyembuhan yang cukup lama. Jangan biarkan ia terlalu lelah juga”

Dihirupnya nafas dengan dalam hingga memenuhi rongga dadanya. ia sungguh berniat mengurai benang yang sudah kusut ini satu per satu walau kenyataannya begitu sulit. Apalagi ia mulai kehilangan kepercayaan Yuri.

Eric memandang cincin platina Yuri yang sejak tadi digenggamnya. Ia teringat peristiwa di penghujung musim dingin lima bulan yang lalu. Setelah bersusah payah mencari alamat Yuri di Jepang selama dua tahun terakhir, seperti mendapat energy baru ia menyusul Yuri ke Tokyo. Meminta maaf karena telah mengecewakan & menyakiti hati wanita itu. Namun, itu bukan perkara mudah. Sikap dingin Yuri & pria bernama Taguchi Junnosuke itu menguji keteguhan hati Eric.

Keteguhannya kembali diuji satu bulan kemudian. Bertepatan dengan selesainya studi S2 Yuri di Tokyo University, Yuri memutuskan kembali ke Seoul & memulai kembali hubungannya dengan Eric dari nol.

Setelah itu Kimjun, seorang fotografer terkenal muncul dintara mereka. Namun, Yuri untuk kesekian kalinya berusaha setia & bertahan disamping Eric. Dan sekarang muncul Yoon Eun Hye & Shin Kihyun diantara mereka. Eric sadar sudah cukup besar pengorbanan yang dilakukan Yuri untuknya. Sudah begitu banyak hati yang ia tepikan hanya demi Eric.

Aku tidak akan memintamu untuk kembali bertahan. Karena akulah yang akan membuatmu bertahan…” ucap Eric pelan seraya menggenggam erat cincin platina Yuri.

ooOoo

Langkah kaki yang dihiasi flat shoes berwarna putih itu terlihat ceria. Yuri menyusuri trotoar di sepanjang jalan utama Seoul. Teriknya matahari tidak ia rasakan karena rimbunnya pepohonan di sepanjang city walk. Mendadak Lion Heart di ponselnya berdering

Yoboseyo, ya Ranbyul ada apa?” sapa Yuri kepada Shin Ranbyul yang ada diujung telepon.

unnie, kapan kau akan datang ke butik?”

ehm… mungkin nanti siang. Sekarang aku ada urusan, apa ada sesuatu yang penting?” jawab Yuri

gaun pengantin yang akan kita pamerkan di fashion show minggu depan harus dicoba hari ini, Tapi Jung Eunah tidak bisa datang untuk fitting baju. Ukuran tubuh unnie dengan Eunah kan sama, bagaimana jika unnie yang mencobanya. Kata Hani unnie, jika ada yang kurang cocok bisa dengan cepat diperbaiki” jelas Ranbyul

Oh begitu? Baik aku akan kesana nanti siang. Oke?” jawab Yuri kemudian ia memutus sambungan teleponnya.

Ia memandang megahnya Seoul stadium. Disinilah biasanya atlet sepak bola berlatih. Ia dengar dari Kihyun sebentar lagi mereka akan mengikuti pertandingan pra piala dunia. Seluruh timnas Korea berlatih pagi ini. Dengan segera ia melangkahkan kakinya menuju stadion. Diujung lapangan, para pemain sedang melakukan pemanasan dan beberapa saat kemudian mereka mulai berlatih. Yuri memicingkan mata, kira-kira dimana Kihyun?. Matanya melebar ketika menemukan sosoknya yang sedang berlari-lari kecil di lapangan bola.

Shin Kihyun, dia pemain bola yang hebat & sangat berbakat” seru seorang pria yang tiba-tiba berdiri disamping Yuri, sejenak membuatnya sedikit heran siapakah gerangan pria ini?. Namun, sepertinya pria tersebut mengerti arti tatapan mata Yuri.

sepertinya kita belum berkenalan. Cheo neun Kim Jong Kook imnida. Pelatih tim sepak bola ini”

ooh… Seonsaengnim, cho neun Ahn Yuri imnida. tapi tunggu, mengapa anda tahu siapa yang saya perhatikan?” selidik Yuri

Kim Jong Kook tersenyum simpul “itu mudah saja, sejak tadi kuperhatikan dirimu hanya melihatnya. Padahal masih banyak pemain lain yang juga tidak kalah tampan” jawaban Kim Jong Kook sukses membuat pipi Yuri tersembul warna merah jambu.

Setelah percakapan kecil tersebut mereka kembali melihat latihan tim sepak bola. Sesekali sang pelatih berteriak memberi pengarahan kepada pemainnya. Tak mau kalah dengan Pelatih Kim, Yuri pun berteriak memberikan semangat untuk Kihyun.

Yuri-ssi, lebih baik kita duduk saja. Kau baru sembuh dari sakit kan?” sekali lagi ucapan Pelatih Kim membuat Yuri terheran-heran. Jika ada cermin, mungkin ia akan melihat alis sebelah kanannya naik keatas. Manajer Kim kemudian duduk di tribun penonton yang diikuti Yuri.

bagaimana anda bisa tahu?” Tanya Yuri penasaran. Pelatih Kim hanya tersenyum & tidak menjawab apa-apa. Sesaat kemudian ia mengeluarkan selembar foto dari saku jaketnya. Dengan ragu Yuri menerimanya & mengamati siapakah sosok yang ada di foto tersebut.

Yoon Eun Hye unnie?” gumamnya tak percaya seraya memandang manajer Kim dengan raut muka penasaran.

dia tunanganku” jawab manajer Kim singkat.

Kepala Yuri seketika tertunduk. Ia mengerti sekarang mengapa manajer Kim dapat mengetahui bahwa ia baru saja sembuh dari sakit. Mendadak dadanya terasa sesak…

Ahn Yuri-ssi, kau jangan khawatir. Yoon Eun Hye selamanya akan menjadi milikku, ia telah kembali padaku & kami memutuskan untuk memulai semuanya dari awal. Selain itu, kami juga sudah memutuskan tanggal pernikahan kami” sesaat kemudian manajer Kim menghentikan pembicaraannya sejenak & tersenyum hangat.

jadi, bisakah kau bertahan untuk Eric sekali lagi?” pinta pelatih Kim dengan lirih namun terdengar begitu dalam. Yuri hanya terdiam, ia kembali teringat kejadian semalam. Ketika Eric menghujani pukulan bertubi-tubi kepada Kihyun.

Pelatih Kim beranjak dari tempat duduknya menuju lapangan sepak bola bergabung dengan asistennya memberikan pelatihan kepada para pemain. Sementara Yuri masih berusaha mencerna kata-kata pelatih Kim barusan. Bertahan sekali lagi? Apakah itu mungkin? Rasa-rasanya ia sudah tidak mempunyai kekuatan untuk bertahan. Ia sudah terlampau lelah…

Yuri!” seru Kihyun yang menghampiri Yuri di tribun penonton setelah selesai latihan. Namun, yang disapa hanya membalasnya dengan senyuman.

kau masih terlihat pucat” komentar Kihyun seraya duduk disamping Yuri, hanya berjarak satu kursi saja.

jangan khawatir, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan lukamu? Lihat ini masih memar. Apa semalam kamu tidak mengompresnya? Ah~ bagaimana ini?” ujar Yuri terdengar begitu cerewet seperti seorang ibu yang terlalu cemas dengan anaknya yang masih kecil.

haha ini?” jawab Kihyun menunjuk bekas luka di sudut bibirnya yang masih terlihat memar. “aku ini laki-laki, tak ada gunanya kau terlalu khawatir seperti itu”

maafkan aku…”

untuk apa minta maaf?”

tentu saja karena kejadian semalam?”

sudahlah lupakan saja. Ooh! Kamu bawa apa itu?” ujar Kihyun mengalihkan perhatian. Perhatian Yuri seketika beralih ke rantang makanan yang ia bawa. Ia memang sengaja menemui Kihyun saat latihan supaya ia dapat memberikan bekal makan siang.

kubuatkan futomaki special untukmu” ujar Yuri tersenyum sambil menyerahkan sekotak penuh berisi futomaki.

waah, kau bisa membuat makanan Jepang? Belajar dari mana?”

tentu saja belajar dari ahlinya langsung, aku pernah tinggal di Jepang selama 2 tahun. Baru sekitar lima bulan lalu aku kembali ke Korea”

Kihyun hanya mengangguk-angguk karena mulutnya terlalu penuh dengan futomaki, sesekali ia memuji hasil masakan wanita yang baru ia kenal beberapa minggu itu.

tapi ini kenapa tidak ada telurnya? Bukankah futomaki akan lebih enak jika diisi dengan telur?”

aku tidak suka telur”

ooh… padahal aku suka sekali, apa kamu alergi telur?”

Yuri hanya mengangguk kemudian tersenyum.

mana bagianku?” teriak seseorang dari belakang, kontan saja membuat Yuri & Kihyun menoleh mencari sumber suara. Namun, dengan tiba-tiba orang tersebut menggeser tubuh Kihyun dan duduk diantara mereka.

ooh! Futomakinya tinggal satu! Berarti ini untukku!” teriaknya kegirangan. Dengan cepat ia menyerobot futomaki dari tangan Kihyun lalu melahapnya dengan cepat. Sesaat kemudian ia menatap Kihyun dengan senyum kemenangan. Sementara yang dipandang hanya terbengong-bengong.

Eric!” teriak Yuri

futomakinya enak ^^”

aish! Kenapa kau menyebalkan sekali hah?” protes Yuri keras namun sama sekali tidak mendapat tanggapan dari Eric.

baik, karena futomakinya habis dan aku masih lapar. Ayo kita makan ramen!” ajak Eric sembari beranjak dari duduknya dan menarik tangan Yuri, namun seketika Kihyun berdiri dan menahan tangan Yuri yang lain.

Yuri, tetaplah disini” pinta Kihyun

Yuri, ayo kita pergi makan” ajak Eric

Tidak! Yuri kau tetap disini” ujar Kihyun tak mau kalah.

[TO BE CONTINUED]

Eric Mun

Shin Ki Hyun

Yoon Eun Hye

Kim Jong Kook

Park Shi Hoo, coming soon ^^ at part 3

Kim Min Soo

Kim Jun

Taguchi Junnosuke

Nakamaru Yuichi

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada September 21, 2011 in Fan Fiction, Jepang, Korea

 

Tag: , , , , , ,

6 responses to “[Fan Fiction] Don’t Love Anyone Else part 2

  1. ratnabewe

    September 23, 2011 at 4:26 am

    finally.. come out >_<
    arrghh hasilnya lebih ok d(^o^)
    mian ya unn jadi ikutan ngrusuh di FFmu.. hahahahaha..

    Oia, I Love the pict so much… the last one and the third from the last. kkk~~~~
    saya lagi gak semangat ngelanjutin FF sendiri.. hohoho
    part 3nya jangan kelamaan ya unn!!

     
    • mycolorisland

      September 23, 2011 at 9:00 am

      hohohoho ayo part 3 aku dibantuin juga, makin berwarna kan ff-nya gr2 ratna ikut nimbrung?
      temenku sampai ikut-ikutan emosi baca ff-nya ^^

       
  2. springofmonday

    September 23, 2011 at 4:48 pm

    hahaha…. itu knp a..pis onn damai.😄

    itu Yuri mw harakiri ga da galak2nya amat onn…
    msa mw harakiri mnumnya kopi???
    *protes mulu ah*

    itu knp tragis bgt onn???
    jd janda perawan donk i.
    hiks… *nangs dpjokan*

    lnjutkn onn..
    part3nya jgn lma2 ntar kbru kangen ma mas Minwoo…😄 *loh?*

    mlah jd tarik2an onn…
    kasian kn tngnnya… XDD

    Kihyun narsis ih majang2 foto dflower shop gt. hahaha..pis onn damai.😄

    itu Yuri mw harakiri ga da galak2nya amat onn…
    msa mw harakiri mnumnya kopi???
    *protes mulu ah*

    itu knp tragis bgt onn???
    jd janda perawan donk i.
    hiks… *nangs dpjokan*

    lnjutkn onn..
    part3nya jgn lma2 ntar kbru kangen ma mas Minwoo…😄 *loh?*

     
    • mycolorisland

      September 24, 2011 at 2:03 am

      hahaha… tapi seru kan? ditungguin aja i, thanks udah komen. ayo nih kapan ff seven years love-mu di publish?

       
    • mycolorisland

      September 24, 2011 at 2:03 am

      hahaha… tapi seru kan? ditungguin aja i, thanks udah komen. ayo nih kapan ff seven years love-mu di publish?

       
  3. JunAh

    September 27, 2011 at 8:48 pm

    maaf yah~ gara2 jun~ jadi ketauan hubungan eric-eunhye.. -_-v
    lanjutkan lah cepaaaatttt~~~~~ *ga sadar kl ff afstor punya sendiri juga blom kelar*

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: