RSS

[Fan Fiction] Don’t Love Anyone Else ~ Final part

23 Agu

Author : Sofie Junnosuke (mycolorisland) & Ratnabewe
Genre : romance
Rate : 15+

Cast : Eric Mun (Shinhwa, actor), Shin Kihyun (ex-member Battle, actor), Yoon Eunhye (ex-member Baby VOX, actress), Kim Jong Kook (singer)

Suppoting cast: Kimjun (T-Max), RIP Kim Minsoo (Monday Kiz), Nakamaru Yuichi (KAT-TUN), Tony Ahn (H.O.T), Nisa Kim

Fictional cast: Ahn Yuri, Shin Ranbyul, Jung Eunah, Choi Hani, Han Hyanggi, Jung Hyokyung, Song Haseok, Shin Jibin, Han Eunkyung, Song Jiyoo, Shin Hyejae

Backsound: Don’t Love Anyone Else ~ Shin Hye Sung
Disclaimer: this story originally from our imagine, plagiat is not good for your health ^^.

PREVIOUS STORY
Don’t Love Anyone Else part 1 [ klik disini ]
Don’t Love Anyone Else part 2 [ klik disini ]

======

“Yuri, tetaplah disini” pinta Kihyun

“Yuri, ayo kita pergi makan” ajak Eric

“Tidak! Yuri kau tetap disini” ujar Kihyun tak mau kalah.

“Kau masih latihan kan??? Untuk apa Yuri disini sendirian?? Lebih baik dia ikut denganku.” Ucapan Eric ini masih menunjukkan dia tak ingin kalah dari Kihyun.

“Yuri berjanji akan menemaniku setelah selesai latihanku, benarkan Ahn Yuri?” tekanan akhir saat menyebutkan namanya membuat Yuri tercekat, baru kali ini dia melihat Kihyun yang menahan amarah biasanya Kihyun akan meladeni semua hal dengan senyuman atau lelucon tapi tidak kali ini. Yuri bisa merasakan nada suara Kihyun berbeda.

“Sorry Eric, aku memang berjanji akan menemani Kihyun.” Ucap Yuri dan berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman Eric. Eric melepasnya begitu saja.

“Oke, aku akan membiarkanmu pergi dengannya tapi selama kau ganti baju aku akan menemani Ahn Yuri disini. Kau kira aku akan membiarkan Yuri sendirian disini menunggumu?? Pergilah, dan saat kau kembali akan kupastikan Yuri masih disini bersamaku.”

Yuri memandang Kihyun, ia mengangguk pelan kearah Kihyun. Yuri tidak ingin ada pertengkaran lagi diantara mereka berdua. Kihyun melepas tangannya dan berjalan menuju ruang ganti pemain.

“Aku merindukanmu Yuri, sangat merindukanmu.” Ucap Eric sembari memeluk Yuri. Yuri hanya terdiam, tak berkata apapun dan tak membalas pelukan hangat itu. Pikirannya kembali berkecamuk setelah mendengar cerita dari Kim Jong Kook.

“Aku tak akan pernah melepaskanmu lagi Yuri.. tak akan pernah..” Hanya Yuri yang bisa mendengar semua ucapan Eric. Kihyun yang memandang semua itu dari kejauhan hanya bisa tersenyum pahit. Dan mencoba berlalu dari suasana seperti itu.

ooOoo

“Yuri-ah, kau pernah bilang kau pernah berada di Jepang, benarkah?” Tanya Kihyun saat dia dan Yuri sedang keluar makan siang.

“Geurae, aku kuliah selama 2 tahun disana.” Mendengar jawaban dari Yuri, Kihyun hanya bisa mengangguk dan pikirannya tiba-tiba menerawang. Saat mendengar Jepang, dia selalu merindukan seseorang.

“Waeyo Kihyun-ssi? Apa kau pernah ke Jepang?”

“Oh tentu, sering sekali. Untuk kompetisi ikebana maupun untuk sepak bola.”

“Rasanya aku lebih menyukai Jepang daripada Korea.” Celoteh Yuri tiba-tiba membuat Kihyun memperhatikannya.

“Aku lebih merasa tenang berada di Jepang, Tony oppa juga, semua bisnisnya berjalan lancar di Jepang. Dan mungkin semua tentang Jepang itu menyenangkan.” Lanjut Yuri.

“Contohnya?” Kini Kihyun ikut penasaran.

“Kau tahu, banyak sekali hal menyenangkan yang kudapat di Jepang. Mulai dari belajar memasak, teman seapartemen yang menyenangkan, asisten dosen yang sangat pintar hingga dimulainya kembali sesuatu yang telah hancur.” Kihyun mengerutkan keningnya tak mengerti semua perkataan Yuri.

“Hah, lupakan saja yang terakhir, kau tahu Shin Ranbyul? Teman sekaligus partner di butikku? Suaminya adalah orang Jepang, dokter yang sangat hebat. Kau tahu, dia sangat bahagia mendapatkan hidupnya bersama Nakamaru-san. Andai saja tidak terlambat mungkin ceritaku tak akan seperti ini.” Sedikit penyesalan muncul di hati Yuri.

“Orang Jepang memang menyenangkan, aku tahu itu…” Gumam Kihyun. Yuri menoleh kearah Kihyun namun pria disebelahnya asyik menerawang kearah yang tak pernah Yuri ketahui sembari meminum kopinya yang mulai dingin.

ooOoo

Cuaca hari ini sangat panas. Saking panasnya, Kihyun samai dapat melihat seakan-akan ada genangan air diujung jalan sana. Fatamorgana.

Kihyun berjalan-jalan sendirian dan tanpa disadari dia sudah berada di jalan menuju kearah butik milik Yuri. Dengan hati senang, dia ingin memberi kejutan pada Yuri yang mungkin saja berada di butik itu. Dia mulai memasuki butik itu. Fashion terbaru karya Yuri dan sahabatnya terpampang rapi dan elegan di butik sederhana itu.

“Annyeong haseyo, ada yang bisa saya bantu?” Kihyun memandang name tag wanita yang menyapanya. Tertulis nama Shin Ranbyul disana, Kihyun tersenyum.

“Apakah Ahn Yuri ada disini?” Pandangan mata ramah Ranbyul berubah menjadi menyempit seketika mendengar seorang pria mencari Ahn Yuri. Apalagi pria itu belum pernah dia temui.

“Ah, Jwoseunghaeyo. Choneun Shin Kihyun imnida. Bangapseumnida.” Ucap Kihyun secepat mungkin.

“Yuri sedang tidak berada disini, apakah sangat penting? Jika iya aku akan segera menghubunginya dan menyuruhnya datang kemari.”

“Ah, tidak usah, aku hanya mampir tadi. Bolehkah aku melihat-lihat sebentar?”

“Tentu saja.” Ucap Ranbyul ramah.

“Ranbyul-ah… tolong aku. Agashi ini mulai berbicara bahasa planet. Kau tahu aku tidak selancar dirimu berbahasa Jepang.” Teriak Hani yang muncul dari lantai atas, Ranbyul tersenyum meninggalkan Kihyun di ruang tunggu.

Kihyun tersenyum melihat semuanya. Perpaduan antara Korea dan Jepang sangat terasa di butik ini. Mungkin ini salah satu alasan mengapa Yuri sangat betah berada di butiknya. Dia bisa sedikit melepas rindunya pada Jepang disini.

Saat hendak meninggalkan butik itu, ia melihat Yuri keluar dari sebuah mobil dan diikuti oleh Eric. Hatinya seketika berhenti berdetak melihat Eric dan Yuri bersama.

“Kihun-kun?” suara itu merebut perhatiannya. Suara dan panggilan itu hanya seseorang yang sering melakukannya pada Shin Kihyun.

“Ah, Kihun-kun. Benar ini kau!” ucap wanita itu dalam bahasa Jepang dan berlari kea rah Kihyun. Wanita itu segera memeluk Kihyun tanpa mempedulikan pandangan Hani maupun Ranbyul yang berada disana.

“Senang bertemu denganmu Kihun-kun, aku merindukanmu! .” Kihyun masih terpaku. Sejak kemarin bayangan wanita ini telah hadir dan hari ini dia akhirnya bertemu dengan wanita yang dia rindukan setelah 6 tahun tidak bertemu.

“Aya-chan, kau telah berubah. Kau makin cantik.”

“Sankyu Kihun-kun. Kukira kau sudah lupa namaku. Tak kusangka kita akan bertemu disini.” Eric dan Yuri yang sudah berada di dalam butik itu terpaku melihat Kihyun berpelukan dengan seorang wanita. Kihyun yang menyadarinya segera berusaha melepaskan pelukan itu.

“Aya-chan, lepaskan. Aku tahu kau sangat merindukanku, tapi jika kau ingin terus memelukku jangan ditempat seramai ini.” Ucap Kihyun lirih tapi masih bisa didengar Yuri yang berada di sebelahnya. Wanita yang sejak tadi dipanggil aya-chan itu terkekeh dan melepaskan pelukannya.

“Wow, Kihyun-ssi. Kau hebat juga ternyata.” Kata-kata yang keluar dari mulut Eric itu terdengar bernada mengejek namun Kihyun hanya tersenyum kecil.

“Mianhae, membuat sedikit kekacauan. Perkenalkan dia Ayaka Yuuri, sahabatku dari Jepang. Kami sudah lama tak bertemu dan akhirnya bertemu disini.” Ujar Kihyun memperkenalkan wanita disampingnya yang terus tersenyum dengan lebar.

Sebagai tuan rumah, Yuri meminta Kihyun serta Ayaka untuk menikmati kopi dibutiknya. Apalagi setelah mendengar penjelasan dari Ranbyul jika Kihyun datang untuk mencarinya. Hati Yuri sedikit berkecamuk melihat kedekatan Kihyun dengan Ayaka.

“Kau tahu Yuri, saat tahu namamu pertama kali aku merasa sangat dekat karena namamu mirip dengan Aya-chan. Ayaka Yuuri dan Ahn Yuri.” Ucap Kihyun begitu saja. namun membuat hati Yuri kembali tidak tenang. Apakah selama ini Kihyun mempermainkannya? Apakah selama ini Kihyun hanya mengingatnya sebagai Yuuri? Apakah Ayaka Yuuri hanya seorang sahabat? Yuri menjadi bimbang dengan apa yang dirasakannya selama ini disamping Kihyun apalagi dengan adanya kehadiran Ayaka Yuuri, meski belum ada sehari tapi semua itu membuatnya kembali goyah.

ooOoo

“Kenapa kau tak pernah menceritakan tentang Ayaka Yuuri padaku?” pertanyaan yang dilontarkan oleh Yuri membuat Shin Kihyun tersenyum. Apakah dia cemburu melihatku dengan Aya-chan? Apakah dia mulai menyadari posisiku dalam hidupnya? Pertanyaan itu memenuhi benak Shin Kihyun.

Sedangkan dalam hati Yuri dia merasa ada yang aneh semenjak kehadiran Ayaka Yuuri. Perhatian Kihyun ke Yuri mulai berkurang namun Yuri sendiripun tidak bisa memastikan apa yang sesungguhnya terjadi dalam dirinya.

Namun, ia berusaha untuk sedikit tenang. Menyibukkan diri dengan mengecek beberapa koleksi gaun terbarunya sepertinya adalah pilihan yang tepat.

“Waeyo? Kukira tidak penting juga Aya-chan untukmu. Aku juga tak tahu kalau kau punya kenangan yang mendalam dengan Jepang.”

“Apakah kau dan Ayaka hanya teman saja? Atau ada hal lain diantara kalian?” Yuri mulai semakin penasaran. Sungguh, kali ini ia tidak bisa menahan dirinya untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang siapa sesungguhnya Ayaka Yuuri dalam kehidupan seorang Shin Kihyun.

“Aku dan Ayaka sangat dekat. Kau tahu kan kalau aku menyukai gadis yang ceria dan bisa mengobrol denganku? Seperti itulah Ayaka saat awal pertemuan kami. Kami pertama kali bertemu saat aku masih Junior High School. Saat itu, keluargaku sedang berlibur ke Jepang dan aku menghadiri sebuah kontes Ikebana dan Ayaka menempati peringkat kedua di usianya yang baru 9 tahun. Hanya berbeda 2 tahun denganku. Aku kagum dengan kemampuan Ayaka saat itu dan akhirnya aku berkesempatan mengobrol dengannya dan terus berhubungan dengannya meski sudah kembali ke Korea.”

“Jika kau terus berhubungan dengannya mengapa kalian terpisah selama 6 tahun?”

“Saat itu sudah sekitar 1 bulan Ayaka tidak menghubungiku dan akhirnya aku datang ke Jepang untuk mengunjunginya namun sayang rumahnya kebakaran dan kudengar mereka sekeluarga pindah ke Amerika dan saat aku kembali ke Korea….” Kihyun terdiam sejenak memperhatikan Yuri yang masih mendengarkannya dengan seksama, “ dan saat aku kembali ke Korea, aku juga harus pindah dari tempat tinggalku sebelumnya sehingga tanpa mengabarinyapun aku harus berpindah kontak.” Lanjut Kihyun dengan senyumnya. Wajahnya yang masih terlihat muda itu terus mengembangkan senyum tanpa lelah.

“Ada lagi yang ingin kau tanyakan?”

“Apakah kalian tidak punya hubungan istimewa lain?”

“Aku sempat menyukainya. Aku juga sempat mengatakannya dan Ayakapun sama.”

ooOoo

Yuri tenggelam dalam pikirannya sendiri. Selama ini kehadiran Kihyun sangat tepat dalam hidupnya, saat dia sedang bermasalah dengan Eric. Kihyun yang selalu mengajaknya tersenyum, Kihyun yang memeluknya saat ia terluka dan Kihyun juga yang selalu membuatnya merasa istimewa tanpa kehadiran Eric disisinya. Saat melihat kebersamaan Eric dengan Eun Hye hatinya terasa sakit namun saat melihat Ayaka bermanjaan di pelukan Kihyun hatinya hanya bergetar. Kihyun hanya pernah bilang dia menyukai Yuri karena keceriannnya, dan kini Yuri tahu bahwa keceriannya mirip dengan Ayaka, Kihyun tak pernah bilang dia mencintai Yuri tapi selalu membuat Yuri bahagia sedangkan Eric yang selalu mengatakan mencintai Yuri kenyataannya Ericlah yang selalu menyakiti dirinya. Yuri mulai ragu dengan perasaannya sendiri.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Oppa? Kapan kau kembali dari Jepang?” Tanya Yuri memperhatikan sosok Tony Ahn yang terlihat makin kurus.

“Baru saja. Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Apa kau sakit lagi?”

“Kau yang makin kurus oppa, jangan terlalu banyak bekerja.”

“Eric lagi? Bisa ditebak.” Yuri hanya menghela nafas panjang mendengar kakaknya itu mulai menasihatinya.

“Sudah berapa lama kau bersama Eric? 1 bulan? 2 bulan? 1 tahun? Apa kau tidak bisa memahami isi hatinya Ahn Yuri? Berapa kalipun kalian bertengkar, kalian berpisah pada akhirnya kalian akan kembali menjadi satu. Kukira pelarian selama 2 tahunmu membuahkan hasil yang lebih baik tapi apa, masih saja kau tidak percaya padanya.” Tony berjalan ke arah kulkas mengambil air untuk mendinginkan kerongkongannya yang mongering. Sedangkan Yuri terdiam dalam duduknya.

“Dengarkan baik-baik, seberapapun kau sakit karena Eric, Eric juga menderita sakit yang sama sepertimu. Aku tahu betapa frustasinya dia saat mencarimu ke Jepang. Aku juga tahu seberapa besar sayangnya yang tersimpan untukmu. Eric adalah orang yang egois dan gengsi, dia tidak akan pernah takluk pada siapapun kecuali padamu. Hanya kamu yang bisa membuatnya menangis dan terluka. Aku lebih suka melihat kau terluka bersamanya daripada kau tertawa bersama orang lain karena disetiap hela nafasmu hanya ada nama Eric.” Ucap Tony lalu berlalu pergi. Yuri mendalami semua kata-kata kakaknya itu namun dia masih belum menemukan jawaban atas apa yang sedang dipikirkannya.

ooOoo

“Ohayou nee-chan…” sapaan dari Ayaka pagi itu mengagetkan Yuri yang berada di butiknya untuk mempersiapkan fashion shownya bulan depan.

“Ohayou Yuuri-san…”

“Tidak apakan aku memanggilmu nee-chan? Hari ini aku ada kencan dengan Kihun-kun. Oh, aku sudah merindukannya…” Ujar Ayaka tanpa diminta oleh Yuri.

“Kau tahu nee-chan, Kihun-kun orang yang sangat perhatian, dia baik dan yang pasti tampang innocentnya yang tak pernah berubah membuatku selalu tenang menatapnya.”

“Kalian akan kemana hari ini?” Yuri berusaha merubah topic karena dia tahu semua kebaikan Kihyun tanpa perlu diberitahu oleh wanita satu ini.

“Aku memintanya berkeliling Seoul, dia harus membayar semuanya saat aku menjadi guidenya saat ia ke Tokyo dulu. Oia, dia juga harus membayar my first kiss disini.” Ucap Ayaka tanpa beban dan dia terkekeh pelan. Yuri memandangnya dengan aneh, pikirannya berkecamuk lagi, dia berusaha keras menahan amarahnya dan detak jantungnya yang berdebar makin tak teratur.

“Kalian janjian disini?”

“Tentu, Kihun-kun bilang kalau dia ada urusan denganmu sebentar makanya dia minta kita bertemu disini.”

“Sepertinya menyenangkan, apa yang kalian bicarakan?” Kehadiran Kihyun memecahkan segalanya. Dandanan casualnya membuat perhatian kedua wanita itu kini mengarah padanya.

“Ah, Kihun-kun. Aku sedang menceritakan masa lalu kita pada nee-chan..” Kihyun mengerutkan alisnya mendengar Ayaka memanggil Yuri dengan sebutan nee-chan. Dipandangnya Yuri dengan lekat dan yang dia lihat hanya Yuri yang berusaha menyibukkan dirinya dan tak memperhatikan mereka berdua.

“Yuri-ah, aku….”

“Oh, ternyata sedang berkumpul disini semua. Annyeong~” ucap Eric memotong perkataan Kihyun. Eric tersenyum kearah Ayaka dan Ayakapun membalas senyuman itu. Eric kemudian mengarahkan pandangannya pada Yuri yang masih berusaha menyibukkan dirinya.

“Kau ingin bicara apa?” Yuri menantikan lanjutan perkataan Kihyun yang terpotong karena kehadiran Eric. Kihyun kemudian tersenyum dan menggeleng.

“Kau cemburu??”Tanya Eric pada Yuri tak berapa lama Kihyun serta Ayaka pamit dari pandangan mereka berdua. Yuri tak menjawab pertanyaan Eric. Dia terus melanjutkan pekerjaannya.

“Aku akan menemanimu seharian ini disini.” Eric yang memang bersifat egois tidak menginginkan jawaban dari Yuri. Eric tak memerlukan ijin dari Yuri untuk terus berada di tempat itu.

“Aku akan makan siang, kau akan tetap disini atau pergi?” akhirnya Yuri mengajak Eric berbicara setelah menemaninya sampai waktu makan siang tiba.

“Aku akan pergi denganmu nona.” Eric mulai meluncurkan sikap manisnya yang dulu pernah meluluhkan hati Yuri ditambah dengan senyumnya. Yuri tercekat, kapan dia terakhir kali mendapatkan senyum seperti itu dari Eric. “Jadi, bisakah kau bertahan untuk Eric sekali lagi?” pertanyaan Pelatih Kim beberapa waktu lalu terngiang di kepalanya. “Aku lebih suka melihat kau terluka bersamanya daripada kau tertawa bersama orang lain karena disetiap hela nafasmu hanya ada nama Eric” kata-kata Tony oppa juga hadir di kepalanya. Dia merindukan senyum manis milik Eric itu. Dia menyukainya. Tanpa mengiyakan Eric mengikuti Yuri pergi makan siang.

“Kau tahu Yuri, aku merindukan saat bersamamu seperti ini. Aku merindukannya, makan siang bersamamu. Berjalan-jalan disekitar taman denganmu dan tidur dalam pelukanmu. Aku merindukan semuanya Yuri-ah” ujar Eric saat mereka berjalan dipinggir sungai Han. Yuri masih tenggelam dalam pikirannya.

Tiba-tiba Eric memeluk Yuri, “Kembalilah padaku Yuri, kembalilah. Berjuta kali aku meminta padamu dan kali ini aku ingin kau benar-benar kembali padaku.” Ucap Eric dengan memeluk Yuri erat. Yuri tak menjawab, dia berusaha melepaskan pelukan Eric ditengah keramaian. Hatinya berdebar tanpa irama, senang dan bahagia lebih terasa saat itu. Dia tersenyum kecil.

ooOoo

Malam semakin larut. Ditemani seceruk bulan sabit, kerlip bintang-bintang semakin indah terlihat menghiasi langit malam. Yuri memandangnya begitu lama. Ia menghirup nafas dalam. Sebuah senyuman membuat bibirnya melengkung tipis.

Pandangan matanya beralih kepada sosok Eric yang tertidur dibalik kemudi. Sebenarnya mereka telah sampai di depan apartemen Yuri sejak satu jam yang lalu. Namun, karena Yuri tertidur, Eric tak sampai hati untuk membangunkannya. Akhirnya ia sendiri juga ikut tertidur.

“Op..pa, terima kasih” gumam Yuri serak. Ini kali pertamanya memanggil Eric dengan sebutan oppa. Terdengar janggal tapi begitu menghangatkan hatinya.

“Oppa neun naegeyeoya. Oppa adalah milikku” ucap Yuri lirih. Ragu-ragu ia mengecup pipi kanan Eric dengan hangat.

“Nan jeongmal saranghae…” ia bisikkan kalimat tersebut di telinga Eric, berharap ia akan mendengarnya meskipun di alam bawah sadarnya.

Yuri menarik handle pintu dan keluar dari mobil. Perasaannya sudah lebih baik sekarang. Memang, semua terasa lebih indah ketika semuanya kembali ke tempat semula. Eric yang sebenarnya tidak benar-benar tertidur pulas, pelan membuka matanya.

“Terima kasih” gumamnya pelan sambil memandang cincin pertunangannya. Ada dorongan yang membuatnya tiba-tiba ingin keluar dari mobil, lalu mengejar gadis yang dicintainya, lalu memeluknya. Namun yang terjadi? ia justru bertingkah seperti orang bodoh, senyum-senyum sendiri tak karuan. Lantas ia mau mengatakan apa setelah memeluknya? Mengucapkan kata-kata romantis? Eric sudah terlalu sering melakukannya. Mungkin saja Yuri sudah muak dengan kata-kata seperti itu. Ia gadis yang simpel, tidak terlalu menyukai rentetan kata-kata gombal.

Mendadak ujung matanya menangkap tas yang tertinggal di jok mobil sebelah kanannya. Tanpa pikir panjang ia langsung keluar dari mobil dan berniat mengembalikan tas Yuri yang tertinggal. Namun, baru sampai di lobi apartemen. Langkah kakinya tertahan. Waktu seakan berhenti berputar. Matanya terasa panas.

Ia melihat Yuri tenggelam dalam pelukan pria berperawakan tinggi, Shin Ki Hyun. Bahkan pria itupun tak segan-segan menyapu bibir Yuri dengan kecupan singkat.

Dengan langkah gemetar dan geraham yang beradu kuat, Eric menghampiri mereka. Menyadari ada yang menghampiri mereka, Yuri berusaha melepaskan pelukan Kihyun.

“Apakah kau benar-benar mencintaiku?” Tanya Eric yang sukses membuat tenggorokan Yuri tercekat. Seperti ada sebuah bola yang tertahan di tenggorokannya sehingga ia tak mampu merespon kata-kata Eric.

“Jawab aku Yuri” ucap Eric dengan suara tertahan.
Pelan-pelan mata Yuri terasa kian panas. Sebentar lagi pasti sudah berembun

“Baik. jika memang itu yang kau inginkan, sikap diammu itu sudah mengatakan jika aku harus melepasmu bukan?” ucap Eric dengan suara begitu rendah. Sepertinya kata-kata yang baru saja meluncur dari mulutnya terasa sulit diucapkan. Ia lalu menyerahkan tas kepada Yuri kemudian berlalu pergi.

Yuri, ayo katakan sesuatu! Lihatlah, Eric sudah pergi meninggalkanmu sekarang.

“Apakah kau tidak mepercayaiku?” Tanya Yuri ketika ia berhasil menahan lengan Eric. Eric sama sekali tidak menoleh apalagi menatap wajah Yuri. ia masih memunggungi gadis itu.

“Ya, aku tidak mempercayaimu. karena, jika kau benar-benar mencintaku, kau tidak akan pernah membiarkanku terluka seperti ini. Kau tahu? Semua ini juga membuatku terluka”

Perlahan tangan Yuri terlepas dari lengan Eric, ia tertegun dengan ucapan Eric. Benarkah sekarang pria yang dicintainya itu begitu terluka karena dirinya?

Yuri mulai terisak melihat kepergian Eric. Sementara Kihyun tidak mampu melakukan apa-apa melihat kejadian ini semua. Ini salahnya, untuk apa mengecupnya untuk yang terakhir kalinya sebagai tanda bahwa ia menyerah dari Eric? Tindakannya benar-benar berlebihan dan tidak masuk akal.

“Yuri-ah, mianhe” gumam Kihyun penuh sesal.

Yuri memaksa dirinya untuk tersenyum. “Sudahlah Kihyun…”

“Kau tidak mengejarnya? Mengapa kau tidak menjelaskan semuanya padanya?”

“Untuk apa? Kurasa semua sudah berakhir sekarang. Sudah tidak ada harapan lagi untukku kan?” tanyanya. Ia tersenyum kecut.

“Bagaimana dengan ini? Bukankah ini impian kalian?” Kihyun menarik pergelangan tangan kanan Yuri.

Yuri seketika tercekat. Sejak kapan cincin pertunangannya kembali terpasang di jari manisnya? Seingatnya, ia tidak pernah memakainya lagi sebab telah ia kembalikan kepada Eric.

Yuri menggigit bibir. Perlahan matanya terasa kabur dan air matanya mulai turun. Saat ia tertidur di mobil tadi ia bermimpi Eric menyematkan cincin di jari manisnya. Ternyata semua itu bukanlah mimpi, itu nyata. Bagaimana ia menjadi sebodoh ini untuk tidak menyadarinya?

“Semua belum terlambat jika kau mau memperbaikinya, ayo kita kejar dia!” Kihyun menarik tangan Yuri untuk berlari. Satu hal yang dipikirkan Yuri ialah pergi ke apartemen Eric. Ia pasti disana.
Yuri dan Kihyun berlari sekuat tenaga. Ia dan Kihyun tak peduli pandangan orang yang memandang mereka dengan tatapan aneh. Mungkin orang telah menganggap mereka gila, malam-malam berlari seperti orang kesetanan.

Kihyun mengentikan langkah panjangnya. Berusaha mengatur nafas sebaik mungkin. Ia membiarkan gadis itu berlarisendirian. Kihyun memandang punggung Yuri yang terus berlari menjauh pergi. Ia tersenyum saat Yuri berteriak kepadanya

“Kihyun !!! terima kasih !!!”

Ia melambaikan tangannya kepada Yuri

“Kembalilah ke tempatmu semula…” ucapan Kihyun terpotong.

“Chingu…” lanjutnya dengan tersenyum. Kini ia merasa lega

ooOoo

Eric berjalan dengan tatapan mata kosong. Memasuki lift dengan beribu argumen yang berkecamuk dalam pikirannya. Mengapa semuanya terasa begitu sulit? Apakah menyerah saja sekarang?

Langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok Yuri yang duduk di lantai di depan pintu apartemen, membenamkan kepalanya di kedua lututnya. Terasa ada genderang perang yang sedang ditabuh di dada Eric. Begitu bergemuruh.

Pelan-pelan ia menghampirinya. Dalam diam, Eric menyingkap rambut Yuri dan menyelipkannya di belakang telinga. Eric juga dapat melihat cincin platina yang masih melingkar cantik di jari manis gadis di hadapannya. Ia tersenyum hambar manakala teringat saat di mobil, ia diam diam menyematkan kembali cincin pertunangan mereka saat Yuri tertidur pulas.

Eric menyentuh kening Yuri. Ia menghela nafas.

“Anak ini, mengapa tidak pernah bisa menjaga kesehatan?” gumamnya saat merasa kening Yuri sedikit demam. Tanpa pikir panjang, ia menggendong Yuri masuk apartemen. Kemudian menidurkannya di ranjang. Tak lupa ia juga mengkompres kening Yuri supaya demamnya lekas turun.

Eric tertegun melihat wajah Yuri. Ia tidak cantik seperti beberapa mantan kekasihnya, tapi gadis tersebut mampu membuat hatinya bergetar. Ketulusannya membuatnya bertekuk lutut. Bahkan ia dapat merasakan perihnya sakit hati karena gadis ini. Ia juga dapat merasakan manisnya cinta karena gadis ini. Ahn Yuri, mengapa kau begitu spesial?

Sekelebat bayangan Kihyun yang mencium bibir Yuri kembali muncul didalam pikirannya. Ia sendiri tak mengerti apa yang harus ia lakukan? Ia mengusap wajahnya, ia benar-benar pusing. Apakah benar tindakannya jika ia menyerah saja sekarang?

Tiba-tiba Yuri memeluk dari belakang dan menangis di punggungnya
“Oppa, mianhae. Aku benar-benar minta maaf” isaknya sukses membuat hati Eric terenyuh.

“Aku sudah menelpon Tony Hyung untuk mengantarkanmu pulang, dan aku harus menepati janjiku” ujar Eric dingin sambil melepaskan tangan Yuri yang melingkar di pinggangnya, ia lalu beranjak dari tempat tidur.

Yuri hanya duduk termangu

“Maaf…” isaknya tertahan

ooOoo

Sinar mentari yang hangat menelisik diantara tirai berwarna putih dengan aksen bunga matahari berwarna kuning. Sinarnya menimpa kepala yang sebenarnya sejak tadi telah terbangun. Namun, ia masih saja bergelung selimut. Tak henti-hentinya matanya memandang cincin di jari manisnya. Untuk kesekian kalinya, air matanya mengalir dari balik mata sembabnya.

“Yuri, jam berapa ini? Ayo bangun” suara Tony oppa memintanya untuk segera bangun. Ia bahkan berusaha menarik selimut Yuri, supaya adik satu-satunya itu lekas bangun dan memulai aktivitasnya.

“Aku masih ngantuk oppa” ujar Yuri dari balik selimut. Ia tidak ingin menunjukkan matanya yang bengkak kepada kakaknya itu.

“Pasti matamu bengkak ya?” goda Tony oppa. Ia tahu dari semalam, sejak Yuri diantar pulang oleh Eric. Suasana diantara mereka berdua sangat aneh. Tony oppa langsung bisa menebak jika sedang terjadi sesuatu diantara mereka

“Kalian bertengkar? Hm?” Tanya Tony oppa lembut sambil menyingkap selimut.

Ia memandang wajah adiknya yang terlihat begitu kacau. Persis seperti 2 tahun lalu saat Eric membatalkan pernikahan secara sepihak.

“Kurasa jika kau mengejarnya ke Bandara dan mejelaskan semuanya, hubungan kalian bsia diselamatkan? Bukankah itu yang kau inginkan?” tanyanya

“Oppa bilang apa? Bandara?” Yuri terkejut setengah mati. Apa yang sebenarnya terjadi?

Tony oppa mengangguk dalam. “Eric akan terbang ke LA pagi ini jam 8, ia tadi menelponku tapi tidak mengatakan apapun perihal kepergiannya. Hanya sebentar mengunjungi keluarganya atau dia tidak akan kembali lagi ke Korea”

Tanpa pikir panjang Yuri meraih sweater-nya dan beranjak melesat pergi.

“Hey! Yuri ganti dulu piyamamu, atau setidaknya cuci dulu mukamu!”

“Tidak sempat oppa! Pesawatnya take off setengah jam lagi! Ayo antarkan aku ke bandara” pinta Yuri tergesa-gesa

ooOoo

Pilar-pilar tinggi bandara Incheon berdiri angkuh. Panel kaca ukuran besar berjajar menyuguhkan pemandangan beberapa pesawat yang hilir mudik. Riuh suasananya beraneka macam, ada yang bahagia karena kembali berjumpa dengan orang yang dirindukan. Ada pula yang sedih mengantar orang terkasih pergi ke negeri seberang. Di ujung pintu masuk, seorang gadis dengan piyama tidurnya berlarian. Wajahnya terlihat bingung mencari sosok yang ia cari.

Ia menggigit bibir memandang jadwal penerbangan luar negeri. Tepat jam 8 !

Lututnya seketika lemas membuatnya terduduk di lantai ketika mendengar pengumuman bahwa pesawat menuju Los Angeles baru saja take off. Tony oppa memandang adiknya dengan tatapan terenyuh. Ia juga tidak menyangka jika semua berakhir seperti ini.

ooOoo

2 minggu kemudian

“Bagaimana? Apakah semua model sudah siap?” Tanya Yuri kepada Choi Hani. Hari ini butik HighStaR sedang mengadakan rangkaian terakhir fashion show mereka musim panas ini.

“iya, semua persiapan sudah fix. Tadi aku sempat memberikan briefing untuk para model. Aku yakin, rangkaian terakhir fashion show kita musim ini akan sukses besar” ujar Hani dengan semangat.

Masih terdengar dari backstage, grup vocal 4Men membuka acara dengan performance single hits mereka “Love Sick” yang terdengar begitu romantis. Atmosfer yang sangat mendukung untuk acara fashion show yang bertema wedding kali ini.

“gawat !!! ” teriak Ranbyul yang datang dengan tergopoh-gopoh
“ada apa?” Tanya Hani dengan nada cemas

“model utama kita, Jung Eunah. Dia pingsan!”

“apa???”

Dengan cepat ketiga orang pemilik HighStaR itu menghampiri Eunah yang masih belum sadar. Terlihat beberapa model yang lain seperti Jung Hyokyung, Song Haseok, Shin Jibin, Han Eunkyung, Song Jiyoo, dan Shin Hyejae bergantian mengurus Eunah.

“bagaimana ini? Dia kan nanti yang memperagakan gaun pengantin utama kita. Kalau bergantian dengan model lain takutnya akan ribet dan tidak efisien” ucap Ranbyul panik

“kenapa kau memandangku seperti itu?” Tanya Yuri kepada Hani yang mendadak memandanginya dengan penuh arti. Sementara itu, Shin Ranbyul mulai mengerti apa yang ada dipikiran Hani

“apakah kau memiliki pemikiran yang sama denganku Ranbyul?” Tanya Hani, Ranbyul kemudian tersenyum lebar

“Aish! Gaun ini berat sekali” keluh Yuri setelah berganti pakaian menjadi gaun pengantin yang akan diperagakan di puncak acara fashion show

“Ranbyul, Hani, harusnya kalian merancang gaun yang ringan dan simple” protesnya sekali lagi

“sudahlah, eonni jangan protes terus. Eonni terlihat sangat anggun mengenakan gaun ini” ujar Eunah tiba-tiba, wajahnya masih terlihat pucat.

ooOoo

“Baiklah, terakhir akan kami persembahkan koleksi utama rancangan kami…” suara pembawa acara menggema diseluruh ruangan disertai dengan riuh tepuk tangan para penikmat fashion.

Yuri mulai menapakkan kakinya di catwalk. Terlihat susah payah berlenggak lenggok di catwalk yang baru kali ini ia lakukan sebagai model bukan seorang pemilik butik. Ditambah gaun pengantin yang begitu berat serta sepatu high heels berwarna putih senada dengan warna gaun tentu saja sangat menyiksa bagi wanita yang terbiasa tampil sporty.

Kilatan blitz kamera segera menyambar-nyambar mengabadikan momen indah ini. Dibarisan fotografer & wartawan terlihat Kimjun disana, ia tersenyum kepada Yuri & mencoba memberikannya semangat.

“hadirin sekalian, gaun ini dirancang oleh Shin Ranbyul & Choi Hani. Berbahan sutera yang didatangkan langsung dari China. Warna putih melambangkan cinta yang suci” sang pembawa acara mulai menjelaskan detail gaun, Yuri berhenti di tengah catwalk untuk memberi kesempatan penonton untuk mengamati gaun yang dikenakan.

“krystal swarosky yang dijadikan detail pada lengannya membuat gaun ini terlihat begitu elegan. Aksen bunga edelweiss pada gaun menggambarkan cinta abadi. Sebagaimana hadirin ketahui bunga edelweiss adalah bunga abadi”

Penjelasan dari pembawa acara semakin membuat riuh tepuk tangan penonton. Kilatan blitz kamera juga semakin menjadi-jadi

“nah, sekarang yang sangat ditunggu-tunggu. Dengan bangga kami tampilkan busana pengantin pria…”

Sosok yang mengenakan tuxedo berwarna putih keluar dari balik panggung membuat mata Yuri terbelalak. Bagaimana ini bisa terjadi? Ia tidak salah lihat kan? Bukankah tidak ada pergantian untuk model prianya?

“E..Eric..” gumam Yuri tidak percaya

Eric hanya tersenyum kemudian menggamit lengan Yuri. mereka berjalan bersama-sama di catwalk. Rona bahagia tak mampu Eric sembunyikan, namun Yuri justru terlihat kikuk. Keduanya berhenti sejenak diujung catwalk memberikan kesempatan para fotografer mengabadikan gambar mereka.

Disaat Yuri membalikkan badannya untuk berjalan kembali ke backstage, lengannya mendadak ditahan. Kemudian Eric menarik pinggang Yuri dengan cepat dan mencium bibir wanita itu di depan semua penonton. Mendadak suasana seisi ruangan menjadi hening…

“Kau kembali…” gumam Yuri nyaris tak terdengar. Matanya kini mulai berkaca-kaca, pelan-pelan embunnya mulai mencair membasahi pelupuk.

“karena semuanya tertinggal disini, termasuk hatiku” lanjut Eric dengan nada rendah namun terdengar begitu dalam. Suasana ruang pertunjukan begitu hening, ratusan pasang mata sepertinya tak mau kehilangan momen apik nan romantis ini.

“menikahlah denganku…” pinta Eric

“bi.. bisakah, kau memelukku sekali lagi?” pinta Yuri dengan mata berkaca-kaca, membutuhkan waktu yang cukup lama bagi Yuri untuk mengatakan hal ini. Tanpa pikir panjang ia pun memeluk wanita yang sudah membuat hatinya jungkir balik itu.

Suasana yang tadinya hening berubah menjadi gegap gempita. Tepuk tangan penonton terdengar membahana memenuhi seisi ruangan

“waah, fashion show kali ini begitu romantis ya?” seru seorang wanita berbaju ungu yang duduk dibarisan paling depan.

“iya, baru kali ini aku melihat fashion show yang dikombinasikan dengan pertunjukan theater” seru wanita lain yang ada disebelahnya

Ditengah lautan penonton terlihat seorang pria jangkung dengan rambut pendek yang terlihat rapi dan ikut bertepuk tangan. Ia tersenyum “akhirnya semua berakhir seperti yang kuharapkan. Tapi, di kehidupan mendatang kuharap akulah pria yang berdiri disana bersamamu Ahn Yuri…” gumam Shin Kihyun pelan…


[THE END]

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 23, 2012 in Fan Fiction, Korea

 

Tag: , ,

2 responses to “[Fan Fiction] Don’t Love Anyone Else ~ Final part

  1. springofmonday

    Agustus 23, 2012 at 5:05 pm

    wah sukaaaa…
    seneng ih onn happy ending walaupun aga kasian sm Kihyun nya.. ㅠㅠ
    romantis bgt..
    Daebaaaakkk…😀

     
  2. my13miraclestory

    Agustus 29, 2012 at 9:35 am

    aku kok rada sesek ya baca nya…Kihyun T_T euukkkhhh

    but selebih nya aku selalu suka sm tulisan kakak yg rapi ^^

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: